Ray Rangkuti juga menyoroti melemahnya fungsi oposisi sebagai salah satu pemicu krisis. Ia berpendapat bahwa ketika hampir semua kekuatan politik berada di lingkar kekuasaan, masyarakat kehilangan saluran aspirasi yang seharusnya berperan sebagai penyeimbang. Kondisi ini, menurutnya, mendorong rakyat untuk mengekspresikan kekecewaannya secara langsung, bahkan dengan cara yang anarkis.
Kejadian ini dinilainya sebagai indikator serius kegagalan dalam mengelola demokrasi pada satu tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, sekaligus pengingat akan bahaya pemerintahan yang sentralistik dan tertutup terhadap kritik.
Sumber: Suara.com
Artikel Terkait
Ressa Rizky Rosano Buka Suara: Benarkah Sudah Nikah & Punya Anak di Usia 17 Tahun?
PPATK Bongkar Skandal Emas Ilegal Rp155 Triliun: Devisa Negara Bocor ke Singapura?
Habib Bahar bin Smith Ditahan! Ini Pasal Berat yang Menghantuinya
Rahasia Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Kunci: Isu Polri, Gaza, dan Pemberantasan Korupsi Terbongkar!