Ray Rangkuti juga menyoroti melemahnya fungsi oposisi sebagai salah satu pemicu krisis. Ia berpendapat bahwa ketika hampir semua kekuatan politik berada di lingkar kekuasaan, masyarakat kehilangan saluran aspirasi yang seharusnya berperan sebagai penyeimbang. Kondisi ini, menurutnya, mendorong rakyat untuk mengekspresikan kekecewaannya secara langsung, bahkan dengan cara yang anarkis.
Kejadian ini dinilainya sebagai indikator serius kegagalan dalam mengelola demokrasi pada satu tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, sekaligus pengingat akan bahaya pemerintahan yang sentralistik dan tertutup terhadap kritik.
Sumber: Suara.com
Artikel Terkait
Ahmad Dhani Bongkar Bukti ABC Perselingkuhan Maia Estianty dengan Bos TV: Saya yang Ceraikan Dia!
Prajurit TNI AL Baru Dilantik Tewas di Kapal Perang, Keluarga Temukan Luka Lebam dan Darah di Selangkangan
Rupiah Anjlok ke Rp17.420! Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Apa yang Terjadi?
Rupiah Anjlok ke Rp17.400! Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Ikut Merah