Ray Rangkuti juga menyoroti melemahnya fungsi oposisi sebagai salah satu pemicu krisis. Ia berpendapat bahwa ketika hampir semua kekuatan politik berada di lingkar kekuasaan, masyarakat kehilangan saluran aspirasi yang seharusnya berperan sebagai penyeimbang. Kondisi ini, menurutnya, mendorong rakyat untuk mengekspresikan kekecewaannya secara langsung, bahkan dengan cara yang anarkis.
Kejadian ini dinilainya sebagai indikator serius kegagalan dalam mengelola demokrasi pada satu tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran, sekaligus pengingat akan bahaya pemerintahan yang sentralistik dan tertutup terhadap kritik.
Sumber: Suara.com
Artikel Terkait
Dana Rp28 Triliun Soros Bocor ke Indonesia: Target Rahasia dan Kontroversi Intervensi Asing
SP-3 untuk Rismon: Perlindungan Hukum atau Imunitas untuk Kasus Ijazah Palsu?
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Siswa Dipotong, Intimidasi Hingga Pencatutan Nama Menteri!
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Dipotong, Intimidasi, hingga Klaim Palsu Cucu Menteri!