Penyebab keracunan massal diduga berasal dari menu soto ayam dan telur dari program MBG. Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto telah mengambil sampel sisa makanan dari korban dan dapur SPPG untuk diperiksa di laboratorium.
"Hasil pemeriksaan sampel paling cepat keluar pada Senin (12/1/2026). Kami mengutamakan akurasi data untuk evaluasi," jelas Teguh Gunarko.
Biaya Perawatan Ditanggung Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Mojokerto memastikan seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban akan ditanggung penuh oleh negara melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
"Semua biaya di rumah sakit dan puskesmas ditanggung BGN. Masyarakat tidak mengeluarkan biaya sepeser pun," tegas Teguh.
Kisah Korban dan Trauma Wali Murid
Kiti Fatmalasari (29), wali murid dari Putri Candra Kirana (13), siswi SMP IT Al Hidayah, menceritakan putrinya mengalami diare, demam, dan gemetar setelah mengonsumsi MBG. Meski kondisi anaknya mulai membaik, Kiti mengaku trauma.
"Sebagai orang tua, saya trauma. Saya harap ke depan program MBG lebih diperhatikan, terutama dari sisi kebersihan dan higienitas," ujarnya. Ia berencana akan membawakan bekal makanan sendiri untuk anaknya ke sekolah.
Evaluasi Program MBG
Insiden keracunan massal ini menjadi peringatan keras bagi pengelola program Makan Bergizi Gratis. Diperlukan pengawasan dan standar keamanan pangan yang lebih ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi, untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Artikel Terkait
Pembina Pramuka Cikarang Diduga Perkosa Siswi Berulang Kali, Modusnya Mengejutkan!
Geger! Pria di Gowa Diduga Rudapaksa Mertua Sendiri, Ditangkap Usai Bersembunyi di Plafon
Ko Erwin Diburu Bareskrim: Inikah Bandar Narkoba yang Biayai Mantan Kapolres Bima?
Motif Cinta Ditolak, Pelaku Bacok Mahasiswi UIN Suska Riau Terancam 12 Tahun Penjara!