Gimah yang tinggal di Dusun Gumukmas menceritakan detik-detik mencekam saat erupsi melanda pada Rabu, 19 November 2025. Suara gemuruh dan hujan abu panas menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
"Awalnya saya pikir lahar biasa, jadi saya tidak ke mana-mana. Tapi kok semakin lama semakin besar. Saya lari ke Supiturang, debunya semakin besar dan panas," kenangnya. Beruntung, rumah yang ia tempati bersama suaminya tidak mengalami kerusakan parah. "Alhamdulillah rumah tidak ada yang rusak, cuma bagian depan saja. Sekarang masih November, jadi tidak menyangka (akan erupsi lagi)," tambahnya.
Upaya Mitigasi dan Tanggul Serius dari TNI di Lumajang
Sementara cerita Gimah viral, upaya mitigasi bencana di lapangan terus berjalan serius. TNI melalui Korem 083/Baladhika Jaya gencar melakukan revitalisasi aliran lahar dan pembangunan tanggul pertahanan.
Peltu Suwandi, personel Penerangan Korem Baladhika Jaya, menjelaskan fokus penggunaan alat berat untuk membangun benteng pertahanan. "Alat-alat berat di belakang ini sedang membuat tanggul. Harapannya, jika ada erupsi susulan, material lahar tidak meluber ke pemukiman warga di Desa Supiturang," tegasnya.
Kisah Gimah menjadi potret nyata kehidupan warga di kaki gunung api aktif. Di satu sisi menghadirkan canda di media sosial, di sisi lain menyadarkan publik tentang ketangguhan dan harapan warga yang hidup berdampingan dengan ancaman bencana.
Artikel Terkait
Pembina Pramuka Cikarang Diduga Perkosa Siswi Berulang Kali, Modusnya Mengejutkan!
Geger! Pria di Gowa Diduga Rudapaksa Mertua Sendiri, Ditangkap Usai Bersembunyi di Plafon
Ko Erwin Diburu Bareskrim: Inikah Bandar Narkoba yang Biayai Mantan Kapolres Bima?
Motif Cinta Ditolak, Pelaku Bacok Mahasiswi UIN Suska Riau Terancam 12 Tahun Penjara!