Mikrofon Dimatikan! Detik-detik Ricuh di Keraton Solo Saat Fadli Zon Serahkan SK ke Tedjowulan

- Minggu, 18 Januari 2026 | 22:25 WIB
Mikrofon Dimatikan! Detik-detik Ricuh di Keraton Solo Saat Fadli Zon Serahkan SK ke Tedjowulan

Menanggapi kericuhan, Fadli Zon menyatakan, Kalau tadi melihat ada sedikit insiden, saya kira itu hal yang biasa. Ini bagian yang memang perlu diselesaikan. Ia berharap Tedjowulan dapat menyelesaikan persoalan internal keraton dan mengundang seluruh keluarga besar untuk berdiskusi.

Penyebab Protes dari GKR Rumbai

GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani menjelaskan alasan protesnya. Ia merasa pihak keraton sebagai tuan rumah tidak dihargai dan tidak diberi tahu mengenai penyelenggaraan acara tersebut.

Kami sebagai tuan rumah tidak diberi tahu, tidak memberikan izin untuk acara tersebut. Jadi kami benar-benar tidak tahu, ucap Timoer Rumbai. Atas dasar itu, pihaknya telah melayangkan surat keberatan kepada Kementerian Kebudayaan dengan tembusan kepada Presiden Prabowo Subianto, karena menilai ada ketidakadilan dalam proses penetapan SK tersebut.

Reaksi dan Latar Belakang Perselisihan Keraton Solo

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan penyesalan atas insiden yang menodai acara kenegaraan tersebut. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sudah terjadi. Mudah-mudahan ini tidak mengurangi semangat kita untuk mencintai kebudayaan, katanya.

Insiden ini tidak terlepas dari situasi memanas di Keraton Solo pasca-mangkatnya Raja Paku Buwono XIII, yang memunculkan dualisme kepemimpinan. Di satu sisi, putra mendiang raja, KGPAA Hamengkunegoro (Gusti Purbaya), mendeklarasikan diri sebagai Raja Paku Buwono XIV. Sementara itu, melalui Rembug Keluarga Keraton Solo, KGPH Hangabehi juga ditetapkan sebagai penerus tahta dengan gelar yang sama, yaitu Paku Buwono XIV.

Maha Menteri Keraton Solo, KGPA Tedjowulan, sebelumnya menyatakan telah terjadi kekosongan kekuasaan sejak mangkatnya PB XIII pada 2 November 2025.

Halaman:

Komentar