Presiden mengungkapkan bahwa di tengah kondisi global yang menantang, seperti ketatnya kondisi keuangan, ketegangan perdagangan, dan ketidakpastian politik, perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang positif.
Ekonomi Indonesia tercatat tumbuh di atas 5 persen setiap tahun dalam satu dekade terakhir. "Dan saya yakin tahun ini pertumbuhan kita akan lebih tinggi. Inflasi kita tetap terjaga di sekitar 2 persen. Defisit pemerintah kita sekarang dijaga di bawah 3 persen dari PDB kita," papar Prabowo.
Ia menambahkan bahwa pengakuan dari lembaga-lembaga internasional bukanlah tanpa dasar. "Lembaga-lembaga internasional tidak memuji kami karena optimisme yang tidak berdasar. Mereka melakukannya karena bukti. Mereka mengakui bahwa ekonomi Indonesia berdaya tahan," tambahnya.
Realitas APBN dan Utang Pemerintah
Data keuangan pemerintah mendukung pernyataan mengenai disiplin fiskal. Dalam APBN 2025, pemerintah menarik utang baru mencapai Rp 736,3 triliun hingga 31 Desember 2025. Angka ini mencapai 94,9 persen dari total target yang ditetapkan.
Sementara itu, total pembiayaan anggaran yang telah direalisasikan hingga Desember 2025 mencapai Rp 744 triliun, atau setara 120,7 persen dari pagu yang direncanakan.
Meski demikian, realisasi APBN hingga akhir 2025 mencatat defisit sebesar Rp 695 triliun, atau setara 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang masih berada dalam batasan yang prudent.
Artikel Terkait
Kabar Duka: Putri Akbar Tandjung Meninggal Dunia, Siapa Karmia Krissanty?
Ganti Wajah di Video dalam 1 Klik? Begini Caranya dengan AIFaceSwap!
Malam Takbiran vs Hari Nyepi 2026: Prajaniti Hindu Bali Resmi Keberatan, Apa Dampaknya?
Mojtaba Khamenei: Sosok Kontroversial Calon Pengganti Pemimpin Iran yang Ditakuti AS