"Mengapa hedge fund masuk ke emerging market seperti Indonesia yang dianggap lemah otoritasnya? Karena mereka tahu. Jangan jadi serigala berbulu domba," tegas Yanuar.
Kekhawatiran MSCI yang Picu Aksi Jual Massal
MSCI secara terbuka menyuarakan kekhawatiran terhadap tingkat investability pasar saham Indonesia, mencakup isu free float, likuiditas, konsentrasi kepemilikan, dan konsistensi regulasi. Kekhawatiran ini diterjemahkan pasar sebagai sinyal negatif kuat.
Akibatnya, terjadi aksi jual massif pada saham-saham kapitalisasi besar, yang membuat IHSG terjun bebas dan memaksa BEI mengaktifkan mekanisme trading halt untuk menjaga stabilitas.
Konteks Geoekonomi Global dan Peringatan untuk Pemerintah
Yanuar menarik konteks geoekonomi global, menyamakan kondisi saat ini dengan era 1980-an dimana perang ekonomi menjadi instrumen tekanan. Situasi ini harus menjadi alarm keras bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk tidak meremehkan permainan hedge fund global.
"Dengan masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, serta sikap tegas Indonesia soal Israel, pesannya adalah 'kita dibantu, jangan dihantam'," pungkas Yanuar.
Artikel Terkait
Mundur Massal Pimpinan OJK & BEI: Ada Apa di Balik Tenggat Free Float Mei 2025?
Longsor Bandung Barat: 60 Kantong Jenazah Ditemukan, 20 Masih Hilang – Ini Update Terbaru Pencarian!
Gatot Nurmantyo Bongkar 3 Langkah Listyo Sigit yang Dituding Alarm Darurat Demokrasi
Misteri Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah: Diantar ART, Kosong, dan Fakta Mengejutkan yang Terungkap