Kaisar Valerian Ditangkap: Kisah Kekalahan Romawi yang Kini Jadi Senjata Politik Iran

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:25 WIB
Kaisar Valerian Ditangkap: Kisah Kekalahan Romawi yang Kini Jadi Senjata Politik Iran

Kaisar Valerian Ditangkap Musuh: Kekalahan Terbesar Romawi yang Masih Jadi Simbol Politik

Kekaisaran Romawi selama berabad-abad dianggap sebagai manifestasi kehendak ilahi yang tak tergoyahkan. Kaisarnya adalah sosok seperti dewa yang dilindungi legiun perkasa. Namun, semua harga diri itu runtuh pada tahun 260 Masehi di dekat Edessa (kini Şanlıurfa, Turki). Valerian, pria paling berkuasa di dunia, justru menjadi tawanan perang Raja Sassanid, Shapur I, setelah pasukannya dihancurkan.

Peristiwa ini adalah titik terendah dalam sejarah Romawi dan babak paling kelam dari Krisis Abad Ketiga yang hampir membubarkan kekaisaran. Bagaimana seorang kaisar bisa jatuh? Dan mengapa kisah kuno ini masih relevan dalam politik global hari ini?

Kronologi Tragedi: Valerian vs Shapur I di Edessa

Valerian naik takhta tahun 253 M di tengah kemalangan: ekonomi runtuh, perang saudara, dan wabah merajalela. Untuk mengatasi ancaman Sassanid di Timur, ia membagi kekuasaan. Ia memimpin sendiri pasukan ke Timur, sementara wilayah Barat diserahkan pada putranya, Gallienus.

Pertempuran di Edessa tahun 260 M berakhir bencana. Meski membawa sekitar 70.000 prajurit, pasukan Romawi kelelahan dan terjangkit penyakit. Detail penangkapannya diperdebatkan. Sejarawan Zosimus mencatat Valerian ditangkap saat negosiasi damai, dikhianati oleh Shapur I. Sang Raja sendiri dalam prasastinya menulis, "Kami dengan tangan kami sendiri menawan Valerian Caesar."

Nasib Valerian: Antara Mitos Kekejaman dan Bukti Arkeologi

Halaman:

Komentar