Alfian menjadi satu-satunya saksi yang selamat. Ia harus berlari menembus malam dengan tubuh terluka dan jiwa yang hancur. Meskipun selamat secara fisik, trauma yang ia alami akan terus menghantuinya seumur hidup.
Ironi paling kejam dari tragedi ini adalah penyebabnya: sengketa lahan. Tanah adalah benda mati yang tidak bisa dibawa ke kubur. Namun, demi sebidang tanah, nyawa anak kecil, ibu, ayah, dan keluarga harus melayang. Hukum mungkin akan menjatuhkan hukuman berat, tetapi tidak ada vonis yang bisa mengembalikan tawa David atau menghidupkan kembali Tasya.
Tragedi Barito Utara ini menjadi cermin paling gelap dari wajah manusia. Ketika keserakahan mengalahkan kasih sayang, dan sebidang tanah lebih berharga dari darah, maka nyawa manusia jatuh sedemikian murah. Lima nyawa dibayar hanya dengan sebidang tanah.
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Viral Pocong Depok Minta Tolong Buka Kain Kafan? Polisi Bongkar Fakta Hoaks yang Bikin Geger
Bongkar Anggaran MBG! Mahfud MD: Rp34 Miliar untuk Makan, Sisanya ke Mana?
Kejanggalan Ijazah Jokowi Terungkap! Roy Suryo Beberkan Bukti Rekayasa di Depan Publik
Rismon Tersangka! Pakar Digital Forensik Dilaporkan ke Polisi Usai Menganulir Isi Buku Gibran End Game