Penolakan ini didasari oleh kekhawatiran warga terhadap dampak ekonomi dari proyek kawasan industri. Sebagian besar pengunjuk rasa adalah petani rumput laut yang mengandalkan area pesisir Desa Laikang sebagai sumber mata pencaharian utama mereka. Mereka menuntut pemerintah daerah untuk membatalkan rencana pembangunan tersebut.
"Kenapa kami menerobos karena ini adalah kemarahan masyarakat," ujar Nasrun, salah satu demonstran di lokasi kejadian.
Menanggapi situasi ini, pihak DPRD Kabupaten Takalar menyatakan bahwa rencana pembangunan kawasan industri masih dalam tahap pembahasan awal di tingkat dewan. Anggota Komisi I DPRD Takalar, Ahmad Nyengka, menegaskan bahwa proses tersebut belum final dan masih memerlukan kajian lebih lanjut. "Harapan kami kepada teman-teman aksi agar tetap mengawal tapi tetap tertib," jelas Ahmad Nyengka.
Sebelumnya, warga Desa Laikang juga telah menggelar aksi serupa sebagai bentuk protes terhadap proyek tersebut. Massa mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak segera dipenuhi oleh pemerintah daerah.
Artikel Terkait
Momen Canggung di Pernikahan El Rumi: Maia Estianty Cuek, Ogah Salaman dengan Ahmad Dhani & Mulan Jameela?
ICW Bongkar Skandal Program MBG: Markup Rp5.000 per Porsi hingga Monopoli Pengadaan!
15 Penumpang Wanita Tewas di Kecelakaan KA Argo Bromo vs KRL Bekasi: Ini Identitas Lengkap Korban
Viral! Pria Thailand Sewa Penari Coyote di Depan Peti Mati, Ternyata Ini Pesan Terakhirnya yang Bikin Netizen Terbelah