Menurutnya, anggaran besar itu bisa disahkan karena setiap anggota dewan ikut mencicipi anggarannya. Bahkan, dengan nominal yang sangat fantastis.
"Terkait dengan anggaran pemilu, saya kira salah satu yang membuat DPR menjadi tidak kritis terhadap penggunaan anggaran dari KPU dan Bawaslu, karena mereka mendapatkan jatah yang sangat besar dari anggaran sosialisasi," ujarnya.
Lucius mengaku mengetahui betul bagaimana perputaran uang yang didapat anggota dewan dari KPU dalam kegiatan sosialisasi. Menurutnya, itu angka yang besar dan wajar jika DPR mengesahkan anggaran yang besar.
"Saya tahu betul berapa uang yang didapat oleh satu anggota di satu titik untuk pelaksanaan sosialisasi. Waktu itu saya mendapatkan informasi sekitar Rp300 juta per satu titik, coba teman-teman kalikan saja itu sudah Rp300 juta satu titik, satu anggota DPR satu tahun mendapatkan 10 titik jatahnya,"
"10 titik dikali Rp300 juta dikali 50 anggota DPR Komisi II, berapa? Dan itu bisa jadi money politik juga karena saat itu mereka yang datang mendengar itu diberikan amplop yah. Jadi bukan hanya narasumber yang pulang dari ruangan itu bawa amplop begitu," sambungnya.
Sumber: akurat
Artikel Terkait
Dana Rp28 Triliun Soros Bocor ke Indonesia: Target Rahasia dan Kontroversi Intervensi Asing
SP-3 untuk Rismon: Perlindungan Hukum atau Imunitas untuk Kasus Ijazah Palsu?
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Siswa Dipotong, Intimidasi Hingga Pencatutan Nama Menteri!
Skandal Dapur MBG Ponorogo: Anggaran Dipotong, Intimidasi, hingga Klaim Palsu Cucu Menteri!