Gibran dan Ilusi Petarung: 'Ketika Privilege Nepotisme Bicara Tentang Perjuangan'
Oleh: Ali Syarief
Akademisi
Di sebuah sudut layar kecil berlogo TikTok, seorang pria muda berdasi tampil menyampaikan pesan penuh semangat.
Dengan nada percaya diri, ia berkata, “Anak muda tidak takut menghadapi tantangan, karena mereka adalah petarung.”
Pernyataan itu tak ayal memancing renungan. Apalagi ketika diketahui bahwa pria itu adalah Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden Republik Indonesia, sekaligus anak sulung Presiden dua periode yang baru saja lengser, Joko Widodo.
Tayangan ini seperti ingin menegaskan eksistensi dirinya yang mulai sayup terdengar di panggung kenegaraan.
Sejak resmi dilantik, Gibran memang belum menunjukkan peran konkret dalam dinamika strategis negara.
Kunjungannya ke sekolah-sekolah dan pernyataan di platform media sosial lebih menyerupai peran simbolik daripada substansial.
Maka wajar jika muncul pertanyaan: benarkah ia petarung, atau hanya pewaris?
Kontradiksi itu menjadi lebih mencolok ketika kita menyandingkan pesan moral yang ia sampaikan dengan kenyataan historis perjalanan politiknya.
Gibran, sebagaimana publik mafhum, meniti karier bukan dari jalan terjal seperti mayoritas anak muda lain yang berkeringat di rimba kompetisi tanpa jaring pengaman.
Ia meniti dari tangga istana, tempat di mana pintu-pintu dibukakan oleh relasi darah, bukan prestasi.
Ketika ia terpilih menjadi Wakil Wali Kota Solo, publik sudah mulai mengendus aroma dinasti.
Artikel Terkait
Pertemuan Rahasia di Solo: Pengamat Bongkar Alasan Sebenarnya Wasekjen Demokrat Temui Jokowi
Rieke Diah Pitaloka Bongkar Data BPJS: Benarkah Separuh Rakyat Indonesia Miskin?
Wali Kota Bekasi Nyaris Kena Golok Saat Tertibkan PKL: Ini Kronologi Lengkap dan Responsnya!
PAN Usung Prabowo-Zulhas Dua Periode: Akankah Koalisi Gemuk Prabowo Pecah?