Sementara itu, para pembela sang tokoh sibuk menyiapkan argumen legal. Tapi hukum bukan pengganti nurani. Dan institusi pendidikan bukan ruang sandiwara.
Kita menyaksikan bagaimana sebuah kebohongan, jika dibiarkan, memerlukan kebohongan lain untuk menutupinya.
Dan begitulah seterusnya, hingga ia menjadi jaring yang membelit pelakunya sendiri. Seperti peringatan yang menggema dari masa ke masa:
"Sesungguhnya kebohongan akan terus menuntut kebohongan lain untuk menutupinya, hingga seseorang terjebak dalam jaring yang ia buat sendiri."
George Orwell pun pernah menulis,
"In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act."
(Di masa penuh tipu daya, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner.)
Namun revolusi dalam konteks ini bukan soal turun ke jalan.
Ia dimulai dari keberanian satu kampus untuk berkata jujur, dari satu pemimpin untuk menunjukkan tanggung jawab, dari satu rakyat untuk tidak lagi tunduk pada absurditas kuasa.
Dan hari-hari ini, publik perlahan mulai paham. Yang dicari bukan sekadar legalitas, tapi kejujuran. Yang dipertanyakan bukan hanya dokumen, tapi niat.
Dan yang hilang bukan hanya selembar ijazah—melainkan rasa hormat terhadap logika, hukum, dan pendidikan itu sendiri.
Jika UGM dan JkW memilih diam, maka sejarah yang akan bersuara. Dan suara sejarah akan menemukan jalannya sendiri, hanya soal waktu.
***
Artikel Terkait
Prajurit TNI AL Baru Dilantik Tewas di Kapal Perang, Keluarga Temukan Luka Lebam dan Darah di Selangkangan
Rupiah Anjlok ke Rp17.420! Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Apa yang Terjadi?
Rupiah Anjlok ke Rp17.400! Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Ikut Merah
Bukan Bos TV! Ternyata Ini Sosok di Balik Masuknya McDonalds ke Indonesia yang Kembali Viral