POLHUKAM.ID - Enam bulan lalu, tepatnya 10 Februari 2025, pengamat politik Tony Rosyid merilis tulisan berjudul “Rivalitas Prabowo vs Jokowi”.
Di hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto hadir di Muktamar Muslimat NU di Surabaya dan menyinggung isu adanya pihak yang mencoba memisahkan dirinya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Ada yang berusaha memisah-misahkan saya dengan Pak Jokowi. Lucu juga. Sebagai bahan ketawaan boleh,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Tak lama setelah itu, di peringatan HUT Partai Gerindra, Prabowo bahkan menyebut kalimat “hidup Jokowi”.
Namun, publik awam justru menafsirkan pernyataan tersebut sebagai tanda Prabowo masih berada di bawah intervensi Jokowi.
Menurut Tony Rosyid, narasi politik Prabowo harus dipahami sebagai strategi untuk merangkul semua kekuatan pada awal pemerintahannya.
Dengan usia kekuasaan yang baru empat bulan, Prabowo masih berusaha menghindari benturan langsung dengan pihak-pihak yang berafiliasi dengan Jokowi.
Namun, sebagaimana rivalitas Jokowi-Megawati yang tak terhindarkan, Tony menilai cepat atau lambat Prabowo akan berhadapan dengan Jokowi.
“Prabowo ingin jadi presiden seutuhnya, tanpa intervensi. Sementara Jokowi punya tanggung jawab terhadap masa depan Gibran yang kini menjabat sebagai wapres,” ujar Tony.
Gibran Rakabuming Raka menjadi faktor penting dalam rivalitas ini.
Jokowi disebut akan terus berupaya mengawal dan bahkan mengintervensi kekuasaan Prabowo demi menjamin peluang politik putra sulungnya menuju kursi RI-1 pada 2029.
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?