Namun, Prabowo diprediksi akan menolak keras.
“Tak ada matahari kembar. Pemimpin itu tunggal. Raja itu hanya satu,” tegas Tony.
Sejumlah langkah politik Prabowo mulai dibaca sebagai upaya mengurangi pengaruh kelompok Jokowi.
Misalnya, penyisihan sejumlah pengusaha besar seperti Mohammad Riza Chalid, Wilmar, Aguan, Tomy Winata, hingga pemilik bank swasta terbesar BCA yang dikenal dekat dengan Jokowi.
Di sisi lain, Prabowo memberikan abolisi dan amnesti kepada Tom Lembong serta Hasto Kristiyanto, dua tokoh yang kerap berseberangan dengan Jokowi, hanya beberapa hari setelah vonis dijatuhkan.
Banyak pakar hukum menilai langkah ini sebagai sinyal genderang perlawanan.
Puncaknya, pada Minggu (31/8), Prabowo menggelar konferensi pers bersama para pimpinan partai terkait ancaman stabilitas keamanan nasional.
Menariknya, Megawati Soekarnoputri hadir, sementara Gibran tidak terlihat mendampingi.
Absennya Gibran dalam momen krusial tersebut memicu spekulasi bahwa hubungan Prabowo dan Jokowi tengah merenggang.
Apalagi, peristiwa kerusuhan sistemik yang terjadi 27–31 Agustus di berbagai wilayah ditengarai sebagai panggung rivalitas keduanya.
“Rivalitas Prabowo vs Jokowi adalah kondisi objektif yang tidak bisa dihindari. Dan saat ini, proses itu sedang berjalan,” pungkas Tony Rosyid.
Sumber: SuaraNasional
Artikel Terkait
Teddy Indra Wijaya: Dari Ajudan Jokowi ke Seskab Rasa Perdana Menteri – Naik Tak Wajar atau Buah Kepercayaan?
Gatot Nurmantyo Bongkar Alasan Dipecat Jokowi dari Panglima TNI: Saya Ditendang karena Tidak Nurut
Qodari Resmi Jabat Kepala Bakom: Gaya Komunikasi Pemerintah Berubah Total Jadi Lebih Agresif dan Siap Perang Narasi
Ray Rangkuti Kecam Reshuffle Kelima Prabowo: Cuma Mutasi Figur Lama, Nggak Ada Perubahan Signifikan