"Hal itu dapat membantu meredam ekskalasi gejolak di masyarakat," ujarnya.
Namun, kata eks Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu, peluang Megawati hadir sangat kecil jika Gibran hadir dalam pertemuan pada Minggu kemarin.
Sebab, lanjut Jamiluddin, Megawati sudah sejak awal tidak mengakui Gibran karena pencalonan putra Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) itu cacat secara hukum.
"Tampaknya, Prabowo memahami masalah psikologis dan sosiologis tersebut. Prabowo menilai lebih strategis kehadiran Megawati daripada Gibran dalam pertemuan tersebut," katanya.
Jamiluddin sendiri menilai ketidakhadiran Gibran saat pertemuan Prabowo dengan ketum parpol bukan atas dasar Kepala Negara tidak nyaman dengan keberadaan eks Wali Kota Solo itu.
"Jadi, kehadiran Megawati lebih diperlukan dalam momen kritis tersebut. Pertimbangan Prabowo ini tampaknya tepat dan hasilnya efektif dalam meredam amarah masyarakat," kata dia.
Sumber: JPNN
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?