"Hal itu dapat membantu meredam ekskalasi gejolak di masyarakat," ujarnya.
Namun, kata eks Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu, peluang Megawati hadir sangat kecil jika Gibran hadir dalam pertemuan pada Minggu kemarin.
Sebab, lanjut Jamiluddin, Megawati sudah sejak awal tidak mengakui Gibran karena pencalonan putra Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) itu cacat secara hukum.
"Tampaknya, Prabowo memahami masalah psikologis dan sosiologis tersebut. Prabowo menilai lebih strategis kehadiran Megawati daripada Gibran dalam pertemuan tersebut," katanya.
Jamiluddin sendiri menilai ketidakhadiran Gibran saat pertemuan Prabowo dengan ketum parpol bukan atas dasar Kepala Negara tidak nyaman dengan keberadaan eks Wali Kota Solo itu.
"Jadi, kehadiran Megawati lebih diperlukan dalam momen kritis tersebut. Pertimbangan Prabowo ini tampaknya tepat dan hasilnya efektif dalam meredam amarah masyarakat," kata dia.
Sumber: JPNN
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?