Menurutnya, keberadaan menteri-menteri tersebut bukan hanya menimbulkan dilema loyalitas, tetapi juga beberapa kali membuat kabinet tersudut oleh kebijakan yang dinilai kontroversial.
Sejak dilantik sebagai presiden, Prabowo memang berada dalam posisi unik.
Di satu sisi ia harus menjaga kesinambungan pemerintahan pasca-Jokowi, namun di sisi lain, ia dituntut untuk menunjukkan identitas politik yang mandiri.
Reshuffle kabinet September ini dinilai langkah awal yang penting, namun belum menyentuh jantung kekuasaan lama.
Jika Prabowo ingin menegaskan wibawa penuh atas pemerintahannya, publik menilai pemecatan menteri-menteri premium loyalis Jokowi menjadi ujian berikutnya.
Di media sosial, warganet juga ramai mendiskusikan isu ini. Sebagian mendukung langkah tegas untuk “membersihkan kabinet” dari bayang-bayang Jokowi.
Namun ada pula yang mengingatkan agar Prabowo tidak gegabah, sebab stabilitas politik dan ekonomi masih membutuhkan harmoni antara dua kekuatan besar.
Reshuffle kabinet kali ini baru langkah awal. Publik kini menanti ketegasan lanjutan Prabowo dalam menyingkirkan menteri-menteri “Geng Solo” yang dianggap masih membawa pengaruh Jokowi ke dalam kabinet.
Keberanian Prabowo untuk melakukan reshuffle jilid dua bisa menentukan arah politik Indonesia lima tahun ke depan.
Jika berhasil, ia akan diingat sebagai presiden yang tegas dan mampu melepaskan diri dari bayang-bayang pendahulunya.
Namun jika ragu, istilah “matahari kembar” bisa menjadi kenyataan dan membuat pemerintahannya sulit melangkah stabil.
Publik menunggu, apakah Prabowo akan menjawab harapan itu dengan tindakan nyata.
Sumber: HukamaNews
Artikel Terkait
Prabowo vs Oligarki: Said Didu Bocorkan Target Geng Solo Parcok dalam Pertemuan Rahasia 4 Jam
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?