Ia pun mengatakan, belakangan PSI yang dianggap sebagai partai yang punya sikap berani dan idealis untuk menolak intoleransi, korupsi dan money politic, justru berubah menjadi partai yang "menye-menye".
"Sebelum ini saya mengenal PSI sebagai rumah politik perjuangan yang penuh dengan keberanian, tak gentar menyatakan sikap dan berjuang untuk melawan intoleransi, korupsi, membangun solidaritas kemanusiaan, merawat kebinekaan, mempertahankan prinsip-prinsip dan idealisme. Politik Keberanian. Politik Perjuangan. Namun akhir-akhir ini saya melihat PSI seperti terjebak dalam politik sentimentil, merasa dihina, dilepeh, diludahi, merasa ditolak cintanya, ngambekan, terkesan politik menye-menye, melow," lanjut Guntur.
Meski memutuskan keluar dari PSI, Guntur Romli mengaku belum akan bergabung dengan partai tertentu dalam waktu dekat.
"Itu alasan yang sebenarnya, mengapa saya akhirnya memutuskan keluar dari PSI adalah kehadiran Prabowo di DPP PSI dan tondo-tondo koalisi PSI dengan Prabowo. Untuk bergabung dengan partai lain, saya belum punya rencananya," pungkasnya.
Sumber: beritasatu
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?