Ia pun mengatakan, belakangan PSI yang dianggap sebagai partai yang punya sikap berani dan idealis untuk menolak intoleransi, korupsi dan money politic, justru berubah menjadi partai yang "menye-menye".
"Sebelum ini saya mengenal PSI sebagai rumah politik perjuangan yang penuh dengan keberanian, tak gentar menyatakan sikap dan berjuang untuk melawan intoleransi, korupsi, membangun solidaritas kemanusiaan, merawat kebinekaan, mempertahankan prinsip-prinsip dan idealisme. Politik Keberanian. Politik Perjuangan. Namun akhir-akhir ini saya melihat PSI seperti terjebak dalam politik sentimentil, merasa dihina, dilepeh, diludahi, merasa ditolak cintanya, ngambekan, terkesan politik menye-menye, melow," lanjut Guntur.
Meski memutuskan keluar dari PSI, Guntur Romli mengaku belum akan bergabung dengan partai tertentu dalam waktu dekat.
"Itu alasan yang sebenarnya, mengapa saya akhirnya memutuskan keluar dari PSI adalah kehadiran Prabowo di DPP PSI dan tondo-tondo koalisi PSI dengan Prabowo. Untuk bergabung dengan partai lain, saya belum punya rencananya," pungkasnya.
Sumber: beritasatu
Artikel Terkait
Strategi Jokowi 2029-2034: PSI, Kaesang, dan Misteri Dinasti Politik yang Mengguncang Indonesia
Dokter Tifa Bongkar Alasan Jokowi Paksakan Diri ke Rakernas PSI: Sakit atau Strategi?
Prabowo Gelar Pertemuan Rahasia Malam Hari: Siti Zuhro dan Susno Duadji Bicara Apa?
Gatot Nurmantyo vs Kapolri: Analisis Hukum Mengungkap Dampak Kritik yang Dinilai Melemahkan Polri