"Kita ada kesulitan untuk memetakan ini isu politik atau isu hukum. Kalau isu hukum ini yang bisa dijerat undang-undang atau isu hukum yang dipaksakan untuk dijerat undang-undang," ungkapnya.
Sikap NU Jatim tersebut, tutur dia, sejalan dengan posisi organisasi massa Islam itu saat ini yang tumbuh menjadi faktor penentu dalam politik.
Dalam konteks pemilihan presiden (pilpres) 2024 mendatang, jelas mantan dosen Ilmu Filsafat itu, banyak calon presiden (capres) menunggu semacam sinyal penting dari NU.
"Saya melihat NU mengambil posisi yang sangat penuh siasat hari-hari ini karena tetap NU akhirnya jadi faktor," tutur dia.
"Dia bukan lagi variabel, tetapi NU sebagai satu ide sejarah, ide kebudayaan, ide politik dia akhirnya tumbuh sebagai faktor, dan itu yang kemudian menerangkan kenapa calon-calon presiden harus menunggu semacam sinyal atau pulung dari NU itu," pungkas Rocky.
Sumber: suara
Artikel Terkait
PMI Investasi Rp 5,3 Triliun di Indonesia: Sampoerna Jadi Pusat Ekspor Global untuk 30+ Negara?
Impor 105 Ribu Pikap India Ditolak, Mahasiswa Desak Dirut Agrinas Dicopot!
Gagal Total Negosiasi ART? Pakar Sebut Tim Ekonomi Prabowo Hanya Jadi Janitor AS
Ijazah Paket C Tiyo Ardianto Disorot, Buni Yani: Tak Masalah, Ini Justru Buktikan...