Dengan mencatat serangkaian kejadian sejak Anies menjabat sebagai gubernur, Agung memberikan gambaran bahwa pihak yang terlibat dalam penjegalan ini telah bergerak dengan terencana.
"Rangkaian peristiwa penjegalan Anies dimulai dari pelarangan oleh Paspampres saat menyambut Persija juara di Stadion Utama Gelora Bung Karno, penjegalan pelaksanaan Formula E, pelarangan Anies mengambil langkah dalam pengendalian Covid-19 di Jakarta, pelarangan tempat acara sosialisasi dan kampanye, sampai ancaman kepada pihak-pihak yang ingin membantu Anies dalam kampanye pilpres," ungkap Agung dengan rincian yang jelas.
Perlu dicatat bahwa tindakan ini juga mencakup pelarangan dalam hal penanganan pandemi Covid-19 di Jakarta.
Agung mengkritik pencegahan Anies dalam mengambil langkah-langkah pengendalian sebagai bagian dari strategi penjegalan yang terus berlanjut.
Selain itu, larangan terhadap tempat acara sosialisasi dan kampanye, bersamaan dengan ancaman terhadap pihak yang ingin memberikan dukungan kepada Anies, menciptakan suasana yang semakin tegang menjelang Pemilu.
Agung juga memberikan peringatan tegas terkait prospek Pemilu 2024. "Seluruh rangkaian penjegalan Anies adalah gejala semakin kuatnya Pemilu 2024 tidak akan berjalan jujur dan adil (jurdil)," ujar Agung dengan nada prihatin.
Dalam pandangannya, satu-satunya cara untuk menjaga integritas pemilu adalah dengan memaksa penguasa untuk keluar dari arena pemilu, sehingga tidak ada lagi tendensi kekuasaan bermain-main dengan proses pemilu demi kepentingan salah satu paslon.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: pojokbaca.id
Artikel Terkait
Gibran di Pilpres 2029: Hanya PSI yang Setia? Ini Peta Dinginnya Dukungan Partai
Jokowi vs Politisi Lain: Siapa Ahli Pencitraan Terhebat Menurut Mantan Harimau Jokowi?
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?