Swedia dan Finlandia sama-sama netral selama Perang Dingin dan keputusan mereka untuk bergabung dengan NATO akan menjadi salah satu perubahan terbesar pada arsitektur keamanan Eropa selama beberapa dekade. Tindakan itu mencerminkan pergeseran besar dalam opini publik di kawasan Nordik sejak Rusia menginvasi tetangganya Ukraina pada Februari.
Pengumuman dukungan untuk keanggotaan dari Sosial Demokrat Swedia membuka jalan bagi Perdana Menteri Andersson untuk meluncurkan aplikasi resmi dalam beberapa hari. Setelah diperiksa oleh sekutu NATO dan jika keberatan Turki ditangani, persetujuan bisa datang hanya dalam hitungan minggu.
Moskow telah menanggapi prospek negara-negara Nordik bergabung dengan NATO dengan mengancam pembalasan, termasuk langkah-langkah teknis-militer yang tidak ditentukan.
"Kami akan memperkuat perbatasan kami dan memperkuat pengelompokan pasukan Rusia di perbatasan jika senjata NATO dikerahkan dekat dengan Rusia di Finlandia," ujar kepala majelis tinggi parlemen komite pertahanan dan keamanan Rusia Viktor Bondarev menulis dalam sebuah posting di Telegram.
Untuk menahan amarah Rusia, Presiden Finlandia Sauli Niinisto melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Sabtu (14/5/2022). Dia mengatakan percakapan mereka terukur dan tidak mengandung ancaman apapun.
"Dia menegaskan bahwa dia pikir itu kesalahan. Kami tidak mengancam Anda. Secara keseluruhan, diskusi itu sangat, bisa saya katakan, tenang dan sejuk," kata Niinisto dalam wawancara dengan program "State of the Union" di CNN.
Sumber: republika.co.id
Artikel Terkait
Trump Tunda Lagi Serangan ke Iran: Deadline Baru 6 April 2026, Apa Strategi di Balik Perpanjangan 10 Hari Ini?
Israel Hapus 2 Nama Kunci Iran dari Daftar Buruan: Peran Rahasia Pakistan Terungkap
Iran Klaim Tembak Jatuh F-18 AS Senilai Rp1 Triliun: Video Detik-Detik Serangan dan Gelombang Rudal Poros Perlawanan
5 Syarat Iran Akhiri Perang: Tolak Gencatan Senjata AS, Ini Tuntutan yang Bikin Dunia Tegang