Sementara itu, Eropa akan menggelontorkan 300 miliar euro sebagai prakarsa selama periode yang sama guna membangun alternatif berkelanjutan bagi skema inisiatif Sabuk dan Jalan China, proyek yang diluncurkan Presiden Xi Jinping pada 2013.
Skema investasi China melibatkan pembangunan dan program di lebih dari 100 negara untuk menciptakan versi modern dari jalur perdagangan Jalur Sutra kuno dari Asia ke Eropa.
Menurut Gedung Putih, rencana tersebut hanya memberikan sedikit manfaat bagi banyak negara berkembang. Selain itu, ini menjebak negara-negara penerima dalam utang dan investasinya lebih menguntungkan bagi China dibandingkan tuan rumahnya.
Biden pun memamerkan sejumlah proyek unggulan, termasuk proyek pengembangan tenaga surya senilai USD 2 miliar di Angola dengan dukungan dari Departemen Perdagangan, Bank Ekspor-Impor AS, perusahaan AS AfricaGlobal Schaffer, dan pengembang proyek AS Sun Africa.
Menurut Friederike Roder, wakil presiden organisasi nirlaba Global Citizen, janji investasi bisa menjadi 'awal yang baik' menuju keterlibatan yang lebih besar oleh negara G7 di negara berkembang dan dapat mendukung pertumbuhan global yang lebih kuat bagi semua.
Negara G7 rata-rata hanya memberikan bantuan pembangunan 0,32 persen dari PDB mereka, kurang dari setengah dari 0,7 persen yang dijanjikan.
"Namun, tanpa negara berkembang, tak akan ada pemulihan ekonomi dunia yang berkelanjutan," komentar Roder.
Sumber: akurat.co
Artikel Terkait
Ramadan di Ambang Krisis: Imam Al-Aqsa Ditahan, Israel Picu Ketegangan Baru di Yerusalem
Mengejutkan! Dokumen Rahsia IDF Ungkap Ada WNI yang Jadi Tentara Israel
Obama Bongkar Fakta Alien: Pernyataan Viral vs Klarifikasi Mengejutkan
Dikejar Massa Haredi! Kisah Horor Dua Tentara Wanita Israel yang Nyaris Diamuk di Bnei Brak