“Saya mengutuk pembakaran Al-Quran, yang suci bagi umat Islam di seluruh dunia, dan saya sekarang patah hati karena nasib yang sama menunggu Alkitab Yahudi, kitab abadi orang-orang Yahudi,” tambah kepala negara itu.
Yaakov Hagoel, ketua Organisasi Zionis Dunia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pemberian izin tersebut bukanlah kebebasan berekspresi tetapi antisemitisme.
Pada Juni, polisi Swedia telah memberikan izin untuk protes Salwan Momika, pengungsi asal Irak berusia 37 tahun, di mana dia menginjak Al-Quran dan membakar beberapa halaman.
Izin tersebut diberikan sejalan dengan perlindungan kebebasan berbicara, tetapi pihak berwenang kemudian mengatakan bahwa mereka telah membuka penyelidikan atas "hasutan terhadap kelompok etnis". Polisi mengakui bahwa Momika telah membakar halaman-halaman kitab suci Islam yang sangat dekat dengan masjid.
Negara-negara termasuk Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Maroko memanggil duta besar Swedia sebagai protes atas insiden pembakaran Al Quran, yang menyebabkan pertemuan darurat 57 anggota Organisasi Kerjasama Islam.
Pemerintah Swedia juga mengutuk pembakaran itu sebagai "Islamofobia," sambil mencatat bahwa negara itu memiliki "hak kebebasan berkumpul, berekspresi, dan demonstrasi yang dilindungi secara konstitusional."
Sumber: tempo
Artikel Terkait
UFO Files Resmi Dirilis! Astronot Apollo Akui Keberadaan Makhluk Asing di Bulan – Ini Buktinya
Netanyahu Buka Suara: Perang dengan Iran Belum Usai, Masih Ada Pekerjaan Rumah yang Nggak Selesai-Selesai
Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Irak untuk Serang Iran, AS Tahu tapi Irak Tak Diizinkan Tahu
Dokumen FBI Bocor: Makhluk 4 Kaki Keluar dari UFO, Ini Bukti Mengerikannya!