Bhima menjelaskan bahwa kendali atas berbagai BUMN raksasa, mulai dari sektor energi, perbankan, hingga infrastruktur, kini tampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh arahan dari Danantara.
Implikasinya, kewenangan Erick Thohir sebagai menteri menjadi berkurang drastis, menyisakan pertanyaan besar mengenai efektivitas dan relevansi perannya saat ini.
Struktur baru ini dirancang untuk mengkonsolidasikan dan meningkatkan nilai aset BUMN, namun di sisi lain menciptakan dualisme kepemimpinan yang berpotensi membingungkan.
Munculnya 'Kuasi Menteri BUMN'
Penilaian terhadap memudarnya peran Erick Thohir semakin diperkuat dengan menyoroti posisi Menteri Investasi, Rosan Roeslani.
Bhima Yudhistira menyebut Rosan kini menjalankan peran rangkap yang semakin menyerupai "kuasi menteri BUMN".
Istilah ini merujuk pada figur yang memiliki pengaruh dan kendali layaknya menteri BUMN, meskipun tidak menjabat secara resmi.
Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh Danantara dalam manajemen perusahaan-perusahaan negara semakin dominan, dan figur seperti Rosan Roeslani menjadi representasi dari kekuatan baru tersebut.
Kondisi ini, menurut Bhima, adalah bagian dari gambaran besar evaluasi kinerja menteri-menteri di bidang ekonomi.
Ia mengkritik bahwa banyak kebijakan yang diambil belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan rakyat dan gagal menunjukkan "sense of crisis" di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang semakin berat.
Pergeseran kekuatan di tubuh BUMN menjadi salah satu cerminan dari dinamika tersebut.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
Kritik Mahasiswa vs Program Prabowo: Analisis Strategis KDKMP, Danantara, dan MBG
Chat Viral Reyhan Bacok Fara di UIN Suska: Isi Pesan Saksi Mata yang Bikin Merinding!
Impor Beras AS 1.000 Ton: Bukti Swasembada Palsu atau Strategi Diplomasi?
Ustaz Abdul Somad Beri Peringatan Keras: Inilah Pesan untuk Anak Muda Usai Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau