Terkait hal itu, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa dirinya akan berhati-hati dalam penarikan penarikan utang melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), di tengah tingginya suku bunga acuan The Fed.
Seperti diketahui, The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 1,5 hingga 1,75 persen pada hari Kamis (16/6/2022) dini hari.
"Karena memang kenaikan inflasi di AS yang bahkan semakin meningkat pasti akan direspon oleh policy," ujar Sri Mulyani saat ditemui di gedung DPR RI, di Jakarta.
Indonesia sebagai negara pengekspor komoditas unggulan seperti batubara dan kelapa sawit memperoleh keuntungan tersendiri, yang membuat penerimaan negara melonjak hingga Rp420 triliun.
Di sisi lain, kenaikan harga-harga terutama barang bersubsidi seperti pangan dan energi memiliki dampak yang sangat besar.
"Dua hal itu yang akan terus dikelola agar tetap menjaga daya beli masyarakat, memulihkan ekonomi, dan dapat mengurangi defisit APBN," terang Sri Mulyani.
Artikel Terkait
Misteri di Langit Riau: Moncong Pesawat Garuda Penyok Diduga Ditabrak Objek Asing!
Ustaz Abu Humairoh Buka Suara: Benarkah Israel Runtuh 2027? Ini Fakta Tafsir Al-Quran
Ledakan Kapal di Selat Hormuz: 3 WNI Hilang, Apa Penyebab Sebenarnya?
Menguak Detak Haru Pemakaman Vidi Aldiano: BCL Menangis Kejer, Vincent Rompies Tak Kuasa, Wajah Almarhum Tersenyum Damai