Kini, banyak masjid berdiri megah dengan arsitektur indah dan fasilitas lengkap. Sayangnya, seringkali aksesnya terbatas. Pintu terkunci setelah waktu salat, musafir diusir, atau orang miskin merasa tidak nyaman hadir. Masjid seolah menjadi milik segelintir orang atau "kaum tertentu", padahal pembangunannya berasal dari sumbangan berbagai lapisan masyarakat.
Eksklusivitas ini mengubah masjid dari rumah Tuhan yang terbuka menjadi simbol gengsi sosial yang justru menjauhkan umat dari hakikatnya.
Menghidupkan Kembali Roh Masjid: Ramah, Aman, dan Penuh Cinta
Fungsi utama pengurus masjid seharusnya melampaui menjaga kebersihan fisik. Tugas terpenting adalah menjaga nilai kemanusiaan dan keramahan di dalamnya. Seorang musafir yang lelah justru mengingatkan kita pada hakikat masjid sebagai tempat singgah bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Menjaga ketertiban penting, tetapi harus dilakukan dengan akal sehat dan kelembutan hati, bukan kekerasan. Masjid adalah cermin akhlak umat. Keramahannya mencerminkan kedamaian masyarakat sekitarnya.
Kesimpulan: Menuju Masjid sebagai Rahmatan lil 'Alamin
Tragedi Sibolga harus menjadi momentum introspeksi kolektif. Sudah saatnya menghidupkan kembali ruh masjid yang sesungguhnya: ramah anak muda, terbuka untuk musafir, nyaman bagi lansia, dan aman untuk semua.
Semoga ke depan, orang yang tertidur lelah di teras masjid disambut dengan senyum dan segelas air, bukan pentungan dan tinju. Karena di sanalah keindahan Islam yang sejati—rahmat bagi seluruh alam—benar-benar terwujud.
Artikel Terkait
Motor Listrik Emmo untuk MBG: Benarkah Cuma Rakitan China dengan TKDN 48,5%?
Daun Pisang vs Plastik: Solusi Cerdas Gubernur DKI Saat Harga Plastik Naik 80%
Cara Download Video YouTube ke MP4/MP3 dengan 1 Klik: Gratis, Cepat & Tanpa Aplikasi!
Rismon Sianipar Bongkar Bukti Video AI, Ini Kata Pakar Forensik Soal Laporan JK ke Polisi