Figur-figur seperti Aa Gym, Ustaz Adi Hidayat, atau Gus Baha menjaga popularitasnya dengan tetap netral atau tidak terikat pada satu calon. Begitu terjun ke politik dukung-mendukung, aura netralitas itu bisa luntur dan berpotensi memecah jemaah yang memiliki pilihan politik berbeda.
Belajar dari Kasus Abdul Wahid
Penangkapan Abdul Wahid dengan tuduhan pemalakan atau meminta jatah preman adalah pukulan telak bagi pendukungnya, termasuk UAS. Reaksi defensif UAS yang terburu-buru membela justru bisa dianggap kurang bijak, mengingat proses hukum masih berjalan. Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas dunia politik yang cair, di mana loyalitas dan koalisi bisa berubah dengan cepat.
Masa Depan UAS dalam Politik
Pertanyaan besar kini adalah apakah kasus ini akan menjadi akhir dari keterlibatan UAS dalam politik praktis, atau justru menjadi awal baginya untuk benar-benar terjun sebagai aktor politik langsung. Maju sebagai calon gubernur di Pilkada Riau mendatang bisa menjadi opsi logis jika UAS ingin mengimplementasikan nilai-nilai yang selama ini didakwahkannya secara langsung dalam pemerintahan.
Pada akhirnya, kasus Abdul Wahid mengajarkan bahwa dukungan dari figur populer sekalipun bukan jaminan keselamatan dari jerat hukum atau kinerja yang bersih. Dunia politik membutuhkan lebih dari sekadar dukungan simbolis; ia membutuhkan integritas, akuntabilitas, dan keberpihakan yang nyata kepada rakyat.
Artikel Terkait
Resmi Cerai! Ini Isi Putusan PA Bandung yang Pisahkan Atalia Praratya dan Ridwan Kamil
Anak Politisi PKS Tewas Ditikam di Tempat Shalat, Pelaku HA Ditangkap & Minta Dihukum Mati Sendiri
Richard Lee Diperiksa Polisi: Ini Kasus Pelanggaran Kesehatan yang Bikin Heboh!
SP3 Kasus Ijazah Jokowi Ditolak? Ini Analisis Pakar UI yang Bikin Roy Suryo Susah Mundur