Eggi Sudjana dan Pengkhianatan Politik: Limbah Peradaban yang Selalu Berulang

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:50 WIB
Eggi Sudjana dan Pengkhianatan Politik: Limbah Peradaban yang Selalu Berulang

Eggi Sudjana dan Fenomena Pengkhianatan Politik dalam Sejarah Bangsa

Oleh: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelejen)

Dalam setiap proses produksi industri, selalu ada dua hasil yang tak terpisahkan. Di satu sisi, lahir produk bernilai ekonomi. Di sisi lain, muncul residu limbah yang tak berguna dan kerap membahayakan. Logika serupa dapat ditemukan dalam dinamika sosial dan politik suatu bangsa.

Interaksi sosial-politik bekerja layaknya seleksi alam. Dari proses panjang itu, lahir individu yang berdaya guna bagi peradaban, namun juga menyisakan "produk gagal" yang hidup dari sisa-sisa kekuasaan tanpa kontribusi, bahkan menjadi racun bagi kehidupan bersama.

Negara maju mendaur ulang limbah agar tidak mencemari tatanan. Namun dalam sejarah Indonesia, persoalan ini lebih kompleks. Sejak era perjuangan kemerdekaan, bangsa ini kerap dihadapkan pada figur yang dapat disebut sebagai limbah peradaban.

Mereka hidup dari mengais remah kekuasaan, bersembunyi di balik simbol kesalehan dan keteladanan. Padahal, di balik topeng itu, mereka berperan sebagai kuda Troya yang membuka pintu dari dalam untuk kepentingan asing dan kekuasaan yang menindas bangsanya sendiri.

Kini, ketika Indonesia menghadapi tantangan kepemimpinan yang dinilai otoriter, fenomena itu berulang. Di saat rakyat berupaya menata ulang nilai kebangsaan, muncul sosok pejuang yang dengan sadar menjual harga diri demi keuntungan duniawi sementara.

Kasus Eggi Sudjana: Cermin Karakter Pengkhianat

Halaman:

Komentar