Eggi Sudjana dan Pengkhianatan Politik: Limbah Peradaban yang Selalu Berulang

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:50 WIB
Eggi Sudjana dan Pengkhianatan Politik: Limbah Peradaban yang Selalu Berulang

Dalam konteks ini, peristiwa Eggi Sudjana yang bertekuk lutut di hadapan Presiden Joko Widodo menjadi sorotan. Bagi yang mengikuti rekam jejaknya, ini bukan kejutan. Pengkhianatan yang ditampilkan bukan sekadar akibat tekanan situasi, melainkan cerminan karakter atau betrayal personality yang berakar dari watak.

Sikap Eggi Sudjana dipandang sebagai bentuk cacat nasionalisme. Bahkan dari sudut pandang keagamaan, dapat dikategorikan sebagai cacat akidah. Sejarah mencatat bahwa pengkhianatan semacam ini bukan hal baru.

Parallel dengan Sejarah: Dari Kaum Munafik hingga Masa Kini

Fenomena ini sejajar dengan kisah kaum munafik dalam sejarah Islam, seperti Abdullah bin Ubay yang membelot pada Perang Uhud, pengkhianatan Bani Nadhir dan Bani Quraizhah dalam Perang Khandaq, hingga pengkhianatan personal seperti Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh dan Hatib bin Balta’ah yang mengorbankan kepentingan umat demi diri sendiri.

Pelajaran Penting bagi Bangsa Indonesia

Dari kasus Eggi Sudjana, bangsa Indonesia harus menarik pelajaran penting: perjuangan tanpa iman dan kesetiaan hanya akan melahirkan pengkhianatan. Sejarah dan agama sama-sama mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah kepastian.

Siapa pun yang tetap berjalan di jalan yang diridai-Nya, dengan kesetiaan dan kejujuran, niscaya akan memperoleh keselamatan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Halaman:

Komentar