Pidato Prabowo di WEF 2026: Rahasia Visi yang Bikin Rakyat Miskin Tersenyum

- Jumat, 23 Januari 2026 | 15:25 WIB
Pidato Prabowo di WEF 2026: Rahasia Visi yang Bikin Rakyat Miskin Tersenyum

Negara, dalam visinya, harus hadir di titik paling rapuh struktur sosial.

Melawan "Greedynomics" dan Menegakkan Hukum

Pidato itu juga tegas menyoroti penegakan hukum. Prabowo menyebut korupsi dan praktik ilegal sebagai "Greedynomics" atau ekonomi keserakahan. Jutaan hektar lahan ilegal disita, ribuan tambang ilegal ditutup. Negara, tegasnya, harus berdiri di sisi kepentingan umum dan berani menghadapi kekuatan ekonomi yang selama ini kebal hukum.

Landasan Filosofis: Amartya Sen dan Paul Collier

Visi kepemimpinan Prabowo ini memiliki resonansi dengan pemikiran para ekonom ternama:

  • Amartya Sen (Development as Freedom): Pembangunan adalah proses memperluas kebebasan manusia. Kemiskinan adalah ketiadaan kemampuan untuk hidup bermartabat. Kebijakan gizi dan kesehatan adalah strategi rasional pembangunan.
  • Paul Collier (The Bottom Billion): Mengabaikan kelompok termiskin akan mengunci kemiskinan lintas generasi. Melawan "greedynomics" dan melindungi yang rapuh adalah keharusan.

Kedua pemikiran ini memperkuat tesis bahwa kepemimpinan sejati diukur dari kemampuan menjaga harapan rakyatnya yang paling lemah.

Kesimpulan: Visi yang Menanti Eksekusi

Di tengah dunia yang bergerak ke arah "survival of the richest", Prabowo menghidupkan kembali filosofi yang nyaris terlupakan: negara ada untuk memastikan yang paling lemah tidak ditinggalkan. Namun, keagungan visi selalu diuji di lapangan realitas. Visi ini menuntut disiplin birokrasi, keberanian politik, dan pengawasan publik tanpa henti.

Selama yang miskin dan lemah masih bisa tersenyum, sebuah negara belum kehilangan masa depannya. Gagasan gemilang kini menanti eksekusi di lapangan yang cemerlang dan berkelanjutan.

Zurich, 23 Januari 2026

Halaman:

Komentar