TPUA Terbelah: Konflik Internal, Pengkhianatan, dan Drama Perebutan Kuasa yang Mengguncang Perjuangan Anti-Korupsi

- Jumat, 20 Februari 2026 | 23:50 WIB
TPUA Terbelah: Konflik Internal, Pengkhianatan, dan Drama Perebutan Kuasa yang Mengguncang Perjuangan Anti-Korupsi

Pertemuan UGM dan Isu Primordial

Insiden saat kunjungan ke UGM Yogyakarta pada 15 April 2025 juga menyisakan catatan. Rismon yang diundang untuk mendampingi, tiba-tiba mengklaim hubungan kekerabatan dengan penulis di media sosial. Kehadiran pihak lain seperti Tifa yang tidak diundang juga memunculkan pertanyaan tentang agenda dan kepentingan masing-masing individu di luar koridor perjuangan TPUA yang terstruktur.

Dampak dan Tuduhan Pengkhianatan

Euforia beberapa pihak yang aktif tampil di media pasca status sebagai Terlapor (TSK), justru bertolak belakang dengan himbauan internal untuk bersikap lebih hati-hati (cooling down). Situasi ini memicu saling tuduh. Kelompok yang dianggap "pendatang baru" menuduh penulis dan Eggi sebagai pengkhianat, sementara dari sisi lain, sikap mereka yang dianggap hanya ingin "tampil" dan "numpang nama" tanpa pondasi kontribusi kokoh dinilai sebagai bentuk ketidaksetiaan pada perjuangan inti TPUA.

Pembekuan TPUA dan Refleksi Akhir

Pembekuan sementara TPUA menjadi titik refleksi. Siapa yang paling diuntungkan? Analisis mengarah pada pihak-pihak yang dinilai telah memecah belah soliditas internal. Harapannya, dengan restrukturisasi pengurus yang lebih fresh dan bertanggung jawab, hakikat perjuangan TPUA dapat kembali diaktifkan. Perjuangan sejati bukan tentang pencitraan individu, tetapi tentang konsistensi, integritas, dan komitmen pada nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan sejak awal.

Catatan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi objektif bagi publik untuk menilai dinamika yang terjadi, memisahkan antara kontribusi nyata dan euforia sesaat, serta mengedepankan semangat perjuangan yang substantif di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

Halaman:

Komentar