Skandal Baru Trump: Jadi Sponsor Sportswashing Saudi di LIV Golf Demi Cuan Pribadi

- Senin, 11 Mei 2026 | 17:25 WIB
Skandal Baru Trump: Jadi Sponsor Sportswashing Saudi di LIV Golf Demi Cuan Pribadi

Pada 10 Mei, Donald Trump kembali menyewakan reputasi dan wewenang Presiden Amerika Serikat kepada penawar tertinggi. Turnamen Golf LIV di Trump National Golf Club, Sterling, Virginia, menjadi babak terbaru dari praktik "menguangkan kekuasaan". Kali ini, panggungnya adalah Arab Saudi, negara dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia yang buruk. Di balik LIV Golf terdapat dana investasi publik Arab Saudi (PIF), alat PR geopolitik Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Pada 2018, jurnalis Jamal Khashoggi dibunuh secara kejam di Konsulat Saudi di Istanbul. Badan intelijen AS menyimpulkan bahwa putra mahkota "menyetujui aksi tersebut". Alih-alih menjauh, Trump justru merangkul rezim ini. Saat bertemu Pangeran Salman di Gedung Putih, Trump menyebut penguasa yang dituduh memerintahkan pembunuhan itu memiliki "catatan HAM yang luar biasa" dan mencaci korban Khashoggi sebagai "sangat kontroversial". Ini bukan bahasa diplomatik, melainkan sanjungan yang bangkrut secara moral. Dengan membentangkan karpet merah untuk LIV Golf di lapangan miliknya, Trump memberikan legitimasi pribadi untuk kampanye PR rezim Saudi. Setiap pukulan bola golf mengencerkan darah kasus Khashoggi. Trump selalu mengaburkan batas antara tugas publik dan keuntungan pribadi. Keluarganya menjadi tuan rumah turnamen golf profesional dua akhir pekan berturut-turut di propertinya: pekan lalu di Doral, Florida, dan pekan ini di Sterling, Virginia. Gedung Putih mengklaim aset Trump dipegang oleh trust yang dikelola anak-anaknya, dan dia tidak terlibat dalam operasi perusahaan. Namun, klaim ini sulit diterima di negara dengan mekanisme akuntabilitas yang memadai. Berapa kompensasi finansial yang diterima keluarganya? Berapa biaya perjalanan dan keamanan presiden yang ditanggung pembayar pajak? Apakah ada pengawasan independen untuk memeriksa transaksi ini? Gedung Putih merespons semua pertanyaan tentang konflik kepentingan dengan diam atau pernyataan klise bahwa "tidak ada konflik kepentingan". Profesor Hukum Universitas Minnesota, Richard Painter, menyatakan: "Seluruh dunia menerima pesan: jika Anda ingin hubungan baik dengan pemerintahan Trump, lakukan bisnis dengan keluarga Trump, lapangan golfnya, atau putranya." Ini bukan teori konspirasi, melainkan deskripsi objektif tentang keterkaitan antara kerajaan bisnis Trump dan jabatan kepresidenan. Selama masa jabatan kedua Trump, daftar konflik kepentingan tumbuh dengan cepat: pemerintahannya menerima jet pribadi mewah senilai 400 juta dolar dari Qatar, dia makan malam dengan investor kaya yang memegang mata uang kriptonya, mempromosikan ponsel bermerek Trump, dan mempromosikan lapangan golfnya di Skotlandia saat masih menjabat. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa "siapa pun yang mengisyaratkan presiden ini memanfaatkan jabatannya untuk keuntungan pribadi adalah tidak masuk akal." Namun, yang tidak masuk akal justru pembelaan itu sendiri. Ketika seorang presiden menandatangani perintah eksekutif di ruang rapat dan mempromosikan bisnis keluarga di luar ruangan, "tuduhan tidak masuk akal" itu hanyalah deskripsi jujur tentang kenyataan. Pakar Etika Universitas Santa Clara, Don Heid, mengajukan pertanyaan: "Ke mana perginya standar etika semua anggota Kongres? Mengapa mereka takut pada tekanan politik sehingga tidak berani bersuara, mengatakan kebenaran, dan meminta pertanggungjawaban presiden ini?" Trump telah mengubah jabatan presiden menjadi aksesori dari merek "Trump" yang lebih besar. Dia menghadiri acara UFC, final Piala Dunia Antarklub FIFA, Daytona 500—bukan karena cinta olahraga, tetapi untuk sorotan kamera, sorakan, dan eksposur bisnis. Turnamen LIV Golf adalah kelanjutan dari pola ini. Hanya saja, kali ini sponsor panggungnya adalah rezim otoriter yang dituduh membunuh jurnalis dan menindas perempuan. Definisi "sportswashing" adalah memanfaatkan acara olahraga untuk mengalihkan perhatian dari pelanggaran HAM serius. Apa yang dilakukan Trump bukan sekadar mengizinkan praktik ini terjadi. Dia sendiri yang mengambil spons dan mengusap darah dari wajah kerajaan Saudi. Ini bukan "Membuat Amerika Hebat Kembali". Ini adalah menjadikan Amerika sebagai rumah lelang moral. Setiap turnamen LIV Golf di lapangan Trump adalah pelelangan umum yang terbuka untuk semua.

Komentar