Nama Prof Roesseno Soerjohadikusumo adalah Dekan Pertama Fak Teknik UGM dan beliau dikenal sebagai "Bapak Beton Indonesia".
Selanjutnya ada juga "Gedung Herman Johannes" sebagai ERIC (Engineering Research and Innovation Center).
Dimana kita tahu semua bahwa Prof Herman Johannes adalah Rektor UGM 1961-1966 dan dikenal sebagai Ahli "Celah Timor".
Nama-nama tokoh Alumnus Asli UGM lainnya juga banyak diabadikan diberbagai Fakultas, misalnya di Fakultas Kedokteran, FKG (Fakultas Kedokteran Gigi), FEB (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), dsb.
Ini jelas menunjukkan kebanggaan kedua belah pihak, baik Alumnus maupun Almamaternya.
Maka sangat aneh bilamana ada Alumnus (Asli?) yang tidak bangga sebagai lulusan UGM dan malah (malu?) menyembunyikan Ijazahnya. Bak judul film "A2DI" alias "Ada Apa Dengan Ijazah ?"
Lucunya, kebanggaan memiliki Alumnus Asli ini tidak hanya diterapkan oleh UGM atau di Indonesia saja tetapi justru ada juga di Gedung Erasmus Universiteit di Kota Rotterdam, Belanda, sebagai bentuk penghormatan terhadap salahsatu Proklamator Kemerdekaan Indonesia yang pernah studi disana saat tahun 1932 silam (saat masih bernama Nederlandse Handels-hogeschool).
Replika dari Ijazah Bung Hatta yang kemudian menjadi Wakil Presiden pertama yang sangat membanggakan, sangat beda jauh alias Bumi dan Langit dengan Fufufafa ini dipajang di lobby utama Erasmus School of Economics, bagian dari kampus tersebut.
Oleh karenanya sekalilagi wajar bila mayoritas (atau bahkan seluruh?) masyarakat Indonesia yang masih waras tentu akan merasa aneh bilamana ada orang yang merasa tidak bangga, bahkan merasa terhina (sehina-hinanya) untuk menunjukkan Ijazah Asli yang dimilikinya.
Bahkan sampai terjadi trending topic "Diploma Challenge" bagi Netizen 62 ntuk bangga bisa menunjukkan Ijazah Aslinya sendiri-sendiri di social media beberapa waktu lalu.
Kesimpulannya, kalau sampai ada Peneliti yang sebenarnya bisa menggunakan teknologi untuk membongkar sejujur-jujurnya ke-(tidak)-aslian Ijazah, termasuk Skripsinya, terus malah dipidana, tentu hanya terjadi di Konoha, di Kampus Ulympus Galia Medussa, bukan UGM asli di Indonesia.
Tetapi kalau itu ternyata benar-benar terjadi di 62, tentu masyarakat tidak salah kalau terus meramaikan tagar #AdiliJokowi dan #MakzulkanFufufafa ... ***
Artikel Terkait
Habib Bahar bin Smith Ditahan! Ini Pasal Berat yang Menghantuinya
Rahasia Pertemuan Prabowo dengan Tokoh Kunci: Isu Polri, Gaza, dan Pemberantasan Korupsi Terbongkar!
Ancaman Pistol Ussama ke Bayi Ressa: Fakta Kelam yang Ditutupi Denada Selama 24 Tahun
Santunan Rp15 Juta Cair! Ini Rincian Bantuan Lengkap Kemensos untuk Korban Banjir Sumatra