Dalam analisisnya, Selamat Ginting tak ragu menyebut Jokowi sebagai "troublemaker bagi bangsa".
Menurutnya, di balik citra sederhana dan merakyat yang berhasil "menghipnosis masyarakat", telah lahir "monster oligarki dan dinasti politik yang merusak pondasi demokrasi".
Panggung kekuasaan Jokowi, lanjut Ginting, dirancang oleh "desainer kekuasaan profesional" yang bekerja di sekelilingnya.
Puncak dari kritik ini adalah penyematan julukan "Malin Kundang politik".
"Jokowi telah mengkhianati partai, amanat reformasi, dan pesan anti-KKN," tudingnya.
Analogi ini digunakan untuk menggambarkan sosok yang dinilai telah melupakan asal-usul dan janji-janji yang pernah diucapkannya.
Pembangunan patung Jokowi saat masih aktif menjabat bahkan dianggap sebagai bentuk "sesembahan", sebuah gejala kultus individu yang sangat berbahaya bagi demokrasi.
Bayang-Bayang Jokowi di Era Prabowo
Lebih jauh, Ginting mengkhawatirkan pengaruh Jokowi tidak akan serta-merta hilang setelah ia lengser.
Ia menuduh Jokowi masih mengontrol kekuasaan di berbagai lini strategis, termasuk institusi penegak hukum seperti kepolisian.
Implikasinya, harapan publik akan penegakan hukum yang adil dalam kasus-kasus sensitif, seperti dugaan ijazah palsu yang pernah ramai, menjadi sulit terwujud.
Pengaruh ini diprediksi akan terus berlanjut ke pemerintahan selanjutnya.
Ginting mengindikasikan bahwa "bayang-bayang Jokowi dalam kekuasaan Presiden Prabowo adalah realitas politik saat ini", menandakan sebuah era baru di mana kekuasaan lama masih akan terus mencengkeram.
Sumber: Suara
Artikel Terkait
NasDem Sindir Gerakan Rakyat: Pilpres Masih Lama! Usai Usung Anies Capres 2029
Diplomasi Tingkat Tinggi: Rahasia di Balik Pertemuan Rahasia Eggi Sudjana dan Damai Lubis dengan Jokowi
Restorative Justice atau Blunder? Misteri Pencabutan Tersangka Eggi-Damai dalam Kasus Ijazah Jokowi Terkuak
Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra! Ini Alasan Krusial Jelang Jadi Deputi Gubernur BI