2. Gejolak 2011
Di tahun 2011, ketika harga Brent berkisar di 110–120 dolar AS per barel, indikator ekonomi domestik Indonesia secara umum masih menunjukkan performa yang positif dan stabil.
3. Pasca Pandemi Covid-19
Pengalaman serupa terulang pasca pandemi, saat harga minyak kembali menyentuh level 100 Dolar AS per barel. Ekonomi Indonesia kembali menunjukkan ketahanannya dan tidak mengalami kehancuran.
Kunci Utama: Kebijakan yang Tepat
Berdasarkan pengalaman historis tersebut, Purbaya menekankan bahwa gejolak harga energi global tidak serta-merta menjatuhkan ekonomi nasional. Kunci utamanya terletak pada kemampuan pemerintah dalam merancang dan menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang pas.
“Artinya kalau kita punya kebijakan yang pas, moneter maupun fiskal... walaupun harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara atau pengalaman untuk mengendalikan dampaknya ke perekonomian. Jadi kita nggak perlu takut," tandas Purbaya menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Restorative Justice Jokowi vs Rismon: Tekanan Ijazah Jepang di Balik Permintaan Damai?
Said Didu Sindir Rismon: Permintaan Maaf Ijazah Jokowi Hanyalah Intan Cacat yang Terbuang?
Rismon Sianipar Akui Ijazah Jokowi Asli: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Solo?
Viral! Mobil Pickup India untuk Koperasi Desa Sudah Tiba di Sukabumi, Benarkah?