Nama Puan Maharani, Ketua DPR RI sekaligus putri Megawati Soekarnoputri, juga masuk dalam radar Hensa. Puan membawa legitimasi politik yang besar beserta mesin PDI Perjuangan yang sudah teruji. Tantangannya, kata Hensa, bersifat personal, yaitu ia perlu meningkatkan penerimaan publik yang selama ini masih terbatas di luar kantong-kantong pemilih PDI Perjuangan.
"Saya memang menyarankan jika PDI-P ingin solid ya Ibu Megawati yang maju. Namun jika Ibu Megawati tidak berkenan, maka buat saya Puan menjadi salah satu kandidat yang bisa didorong untuk maju di Pilpres 2029, karena pengalamannya panjang termasuk dua periode menjadi Ketua DPR," kata Hensa.
Tokoh lain dari PDI Perjuangan yang juga dipandang potensial adalah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Pengalamannya yang panjang di legislatif dan kini di eksekutif daerah dinilai memberi modal yang cukup untuk diperhitungkan.
"Mas Pram ini juga potensial untuk maju di Pilpres 2029, puluhan tahun di birokrasi pemerintahan dan kini juga terlihat kinerjanya sebagai pemimpin sejak jadi Gubernur, namun langkahnya sangat bergantung pada posisi PDI Perjuangan nanti," ujar Hensa.
Kejutan dari Internal Gerindra: Dedi Mulyadi
Dari internal Partai Gerindra, selain Prabowo, Hensa menyebut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM sebagai salah satu kejutan potensial. Popularitas KDM yang meledak di media sosial dan pendekatannya yang dekat dengan rakyat menjadikannya salah satu tokoh daerah dengan tingkat perbincangan publik tertinggi saat ini.
"Tantangan KDM ada dua: bagaimana publik melihatnya di kancah nasional, dan bagaimana keadaan internal Gerindra nanti, apalagi Pak Prabowo masih jadi calon kuat untuk maju lagi sebagai petahana," kata Hensa.
Bayang-Bayang Penantang: Anies Baswedan, Purbaya, dan Sultan Najamudin
Hensa pun menambahkan bahwa di luar figur-figur tersebut, tetap ada bayang-bayang penantang lain yang sedang mengintip peluang. Nama-nama seperti Purbaya Yudhi Sadewa, Anies Baswedan, hingga Ketua DPD Sultan Najamudin juga patut diperhatikan.
"Ketiga nama ini, mereka sedang mengintip-intip cari lubang kesempatan nih. Anies misalnya punya basis pemilih yang loyal, Purbaya memiliki pengalaman teknokrat yang kuat, sementara Sultan Najamudin sebagai Ketua DPD memiliki posisi strategis di lembaga tinggi negara," jelasnya.
Menurut Hensa, kemunculan banyak tokoh baru dan bayang-bayang penantang ini justru menjadi sinyal sehat bagi demokrasi Indonesia. Kendati demikian, Hensa mengingatkan bahwa seluruh skenario tersebut baru akan relevan jika Presiden Prabowo Subianto memutuskan tidak maju kembali di Pilpres 2029.
"Oh iya, disclaimer ya, ini hanya berlaku bila Pak Prabowo enggak maju lagi, kalau 08 maju lagi, hampir pasti semuanya berebut merapat ke pak Prabowo," tutup Hensa.
Artikel Terkait
Bukan Prabowo, Petinggi TNI Sebut Opsi Pemakzulan Ini Jauh Lebih Realistis dan Risikonya Kecil
Tentara Israel Jejali Rokok ke Mulut Patung Bunda Maria di Lebanon: Aksi Hina yang Picu Kemarahan Umat Katolik
Ade Armando Mundur dari PSI! Pengamat: Ini Bumerang Politik yang Bisa Hancurkan Kaesang
JIKA TEDDY DIAM, PUBLIK BERHAK PERCAYA TUDUHAN AMIEN RAIS? FAKTA DI BALIK BUNGKAMNYA SESEKAB