Salah satu PR besar di dunia perpolitikan Indonesia adalah menyelesaikan masalah polarisasi yang kian hari dirasa makin tajam. Polarisasi atau pembelahan di masyarakat makin terasa jika sudah berkaitan dukung-mendukung calon pemimpin.
Masalah polarisasi ini juga dibahas pada diskusi yang diadakan Partai Gelombang Rakyat (Gelora) pada Rabu (29/6/22) dengan judul “Polarisasi Politik Pemilu 2024, Akankah Kembali Berulang?” yang diadakan secara daring.
Ismail Fahmi, Founder Drone Emprit, yang hadir sebagai salah satu narasumber berbicara panjang lebar mengenai analisis terkait polarisasi yang menjadi percakapan di media sosial.
Pada awal pembahasn Fahmi menyinggung soal penyebaran informasi salah alias Hoax yang mana menurut penelitian justru dilakukan oleh manusia bukan “BOT”.
“Fake news menurut penelitian di MIT paling banyak tersebar bukan oleh robot tetapi oleh manusia itu sendiri,” ujar Ismail Fahmi dalam diskusi tersebut, dikutip Rabu (29/6/22).
Dalam lanjutan materi pembahasannya, Ismail menyingung masalah atau isu turunan dari polarisasi yakni “politik identitas”.
Baca Juga: Nggak Setuju dengan Bang Yos Soal TKA Cina, Grace Natalie Singgung Tukang Las: Harus Punya…
Politik Identitas yang secara sederhana dapat diartikan pemberian batas yang sangat tegas untuk menentukan siapa yang diterima dan ditolak ini.
“Apa yang sering dipakai? Agama dan Pancasila sering diapakai. Saya Islam Anda bukan Islam, Saya Pancasila Anda bukan Pancasila, semua itu jadi politik identitas. Politik Identitas bisa dilakukan oleh banyak pihak,” jelas Ismail.
Artikel Terkait
Prabowo Dua Periode 2029: Rahasia Kepercayaan Diri Gerindra & Masa Depan Koalisi Tanpa Gibran
Isu Kapolri Membangkang Prabowo: Opini Jahat atau Upaya Sistematis Serang Polri?
Misteri Dukungan Golkar 2029: Strategi Rahasia Bahlil untuk Kuasai Panggung Politik
Prabowo Dua Periode 2029: Cek Ombak Gerindra atau Sinyal Perang Koalisi?