Mereka mempertanyakan validitas simulasi Capres yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, mengingat Pilpres 2024 diikuti oleh tiga pasangan calon.
PDIP Kota Surakarta sudah melakukan follow-up ke KPU Pusat terkait protes ini.
Namun, KPU Pusat mengklaim bahwa mereka hanya menjalankan tugas dan tidak memiliki kewenangan untuk menambah atau mengurangi jumlah pasangan calon.
Dalam wawancara dengan warga, terungkap bahwa ketidakjelasan simulasi ini telah dirasakan oleh masyarakat.
Seorang warga yang berusia 68 tahun bahkan mengaku bingung saat membuka kartu suara Pilpres 2024, ungkapnya, mempertanyakan mengapa tidak ada foto calon dengan rambut putih.
Sementara seorang pemilih muda, berusia 21 tahun, menyatakan keheranannya dan bertanya mengapa hanya ada dua kolom pada pasangan calon, sementara total pasangan calon ada tiga, ungkapnya
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: paradapos.com
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?