Dukungan untuk Palestina dan Kontroversi
Sikap politik Mamdani yang vokal membela hak-hak Palestina menjadi salah satu poin paling kontroversial. Ia bahkan pernah menyatakan akan menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu jika datang ke New York. Sikap ini membuat lobi Israel dan sejumlah pengusaha besar mengucurkan dana besar untuk mengalahkannya. Mamdani menolak mengutuk slogan "Globalisasi intifada", yang ia anggap sebagai bentuk perjuangan kesetaraan.
Kampanye Digital dan Tantangan dari Trump
Kemenangan Mamdani didukung oleh kampanye media sosial yang agresif dan viral, memungkinkannya menjangkau pemilih muda. Namun, jalan menuju balai kota penuh rintangan. Mantan Presiden AS Donald Trump berulang kali melayangkan ancaman akan memotong dana federal untuk New York jika Mamdani menang, serta menyebutnya "komunis" dan "pembenci Yahudi". Mamdani membalas tantangan Trump dalam pidato kemenangannya dengan kata-kata tegas, "Naikkan volumenya."
Melawan Islamofobia dan Mewakili Kaum Tertindas
Mamdani juga menghadapi gelombang kampanye islamofobia selama pemilihan. Dalam pidatonya di Bronx, ia menegaskan bahwa penghinaan tidak membuat kaum Muslim berbeda, dan berjanji memperjuangkan semua warga New York yang tertindas. Kemenangannya ia sebut sebagai kemenangan "orang-orang kecil" melawan kekuatan miliarder.
Dengan mayoritas suara dan partisipasi pemilih tertinggi dalam puluhan tahun, Zohran Mamdani kini bersiap memimpin New York dengan agenda progresif yang berjanji mengubah wajah kota terbesar di Amerika Serikat tersebut.
Artikel Terkait
Jenderal Uganda Tuntut Rp 17 Triliun & Istri dari Turki: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Gagal Total! Perundingan AS-Iran 21 Jam Bubar Gara-Gara Isu Nuklir Ini
Iran Bantah Keras! Benarkah AS Berhasil Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz?
Pertemuan Rahasia JD Vance dengan Iran di Islamabad: Apa yang Sebenarnya Dibahas?