Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia menyebut angka korban pengunjuk rasa minimal 192 orang. Pihak berwenang Iran sendiri belum merilis angka resmi. Pemadaman internet besar-besaran di Iran menyulitkan verifikasi independen dan dikhawatirkan jumlah korban sebenarnya lebih tinggi.
Ancaman Balasan Iran dan Tuduhan terhadap AS-Israel
Pimpinan Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, membalas dengan ancaman bahwa kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah akan menjadi "target sah" jika Washington benar-benar menyerang.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan, menyebut para pelaku sebagai "teroris". Pemerintah Iran menetapkan tiga hari berkabung nasional dan mendorong masyarakat untuk mengikuti "pawai perlawanan" mengecam kekerasan.
Protes Terbesar dalam Tahun-Tahun Terakhir
Gelombang protes ini, yang dipicu oleh krisis ekonomi dan jatuhnya nilai mata uang, telah berkembang menjadi gerakan menuntut reformasi politik dan merupakan yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas Iran merespons dengan keras, menangkap para pemimpin protes dan mengancam hukuman berat, termasuk hukuman mati dengan tuduhan sebagai "musuh Tuhan".
Dengan ancaman intervensi AS dari Presiden Trump yang menyatakan kesiapan "menyelamatkan" pengunjuk rasa, ketegangan antara Washington dan Tehran diprediksi akan semakin memuncak dalam hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Trump Tuntut Deportasi Anggota Kongres AS: Mungkinkah Hukum Dikalahkan?
Iran Tuduh AS & Israel Pakai Propaganda Nazi Goebbels: Apa Target Sebenarnya di Balik Isu Nuklir?
Blok Sunni Baru Pimpinan Turki-Mesir: Ancaman Nuklir yang Lebih Menakutkan dari Iran bagi Israel?
Hegemoni AS Terbongkar: Alasan Israel Bebas Iuran Board of Peace yang Bikin Dunia Geram