Menurut analisisnya, bagi kelompok yang memprioritaskan kebahagiaan akhirat, keimanan menjadi sumber kebahagiaan utama. Keyakinan ini membuat mereka tetap merasa bahagia meskipun secara ekonomi belum mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Pengakuan kebahagiaan ini dianggap tulus dan apa adanya.
Prinsip serupa berlaku untuk kelompok yang mengejar keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Ketika harapan materi belum sepenuhnya terpenuhi, keyakinan akan kehidupan akhirat yang lebih baik memberikan ketenangan dan kebahagiaan.
"Karena itu, kebahagiaan rakyat Indonesia bukan karena kesejahteraan tapi lebih bersumber dari keimanan," pungkas Jamiluddin.
Respon Presiden Prabowo atas Prestasi Kebahagiaan Indonesia
Presiden Prabowo Subianto mengaku terharu membaca hasil survei GFS tersebut. Dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025, ia menyampaikan kebanggaannya.
"Di mana hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia. Negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya," ujar Prabowo.
Kesimpulannya, temuan bahwa Indonesia adalah negara paling bahagia membuka diskusi penting. Prestasi ini tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi, tetapi lebih pada kekuatan spiritual dan keimanan yang menjadi pondasi karakter bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati seringkali berasal dari sumber yang non-material dan mendalam.
Artikel Terkait
Siapa Sebenarnya Eny Retno? Kisah Istri Gus Yaqut yang Setia 21 Tahun & Lulusan IPB
Korupsi Tambang & Sawit Rp186,48 Triliun: Modus Bocornya Uang Negara Akhirnya Terbongkar!
Unggahan UAS Soal Penolakan Ceramah 2018: Kaitannya dengan Status Tersangka Gus Yaqut Sekarang?
Ayah Prada Lucky Ditangkap TNI: Fakta KDRT, Wanita Simpanan, dan Perlawanan di Pelabuhan