"Bantuan itu bisa diserahkan tanpa izin, tanpa ribut, dan tanpa klaim berlebihan. Yang penting sampai ke masyarakat," tegas Jenderal Maruli.
Pernyataannya ini dinilai sebagai sindiran tajam terhadap praktik "bantuan seremonial" yang mengutamakan dokumentasi daripada aksi nyata. Di tengah penderitaan korban, yang dibutuhkan adalah kehadiran dan kepedulian tulus, bukan sekadar logo atau spanduk besar.
TNI AD Kedepankan Kerja Nyata di Lapangan
Sebagai institusi yang kerap terlibat dalam penanganan darurat, TNI AD disebut selalu mengedepankan kerja konkret di lapangan. Mulai dari distribusi logistik, evakuasi korban, hingga pemulihan pascabencana dilakukan tanpa menonjolkan klaim berlebihan.
Maruli berharap para donatur, baik individu maupun lembaga, dapat menempatkan nilai kemanusiaan di atas segalanya. Keikhlasan dalam membantu dinilai lebih bermakna dan berdampak panjang bagi korban dibandingkan publikasi yang gegap gempita.
Sindiran KSAD Maruli Simanjuntak ini menjadi pengingat penting bahwa bantuan bencana bukanlah panggung pertunjukan. Setiap paket bantuan seharusnya murni merupakan uluran tangan untuk meringankan beban mereka yang terdampak.
Artikel Terkait
Siapa Sebenarnya Eny Retno? Kisah Istri Gus Yaqut yang Setia 21 Tahun & Lulusan IPB
Korupsi Tambang & Sawit Rp186,48 Triliun: Modus Bocornya Uang Negara Akhirnya Terbongkar!
Unggahan UAS Soal Penolakan Ceramah 2018: Kaitannya dengan Status Tersangka Gus Yaqut Sekarang?
Ayah Prada Lucky Ditangkap TNI: Fakta KDRT, Wanita Simpanan, dan Perlawanan di Pelabuhan