Daftar 50 Oligarki yang Dibahas Prabowo: Said Didu Bocorkan Isi Pertemuan Rahasia 4 Jam

- Jumat, 13 Februari 2026 | 15:25 WIB
Daftar 50 Oligarki yang Dibahas Prabowo: Said Didu Bocorkan Isi Pertemuan Rahasia 4 Jam

Said Didu Bongkar Daftar 50 Nama Oligarki dari Pertemuan dengan Presiden Prabowo

Aktivis dan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, mengungkap isi pertemuannya yang berlangsung lebih dari empat jam dengan Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan yang dibahas dalam program Rosi di Kompas TV ini mengungkap daftar puluhan nama oligarki yang diduga menikmati praktik ekonomi merugikan negara.

50 Nama Oligarki dalam Catatan Said Didu

Said Didu mengaku mencatat empat halaman hasil pertemuan, termasuk nama-nama oligarki. "Ada 50 nama, bahkan 10 di antaranya disebut lebih parah," ujarnya. Presiden Prabowo disebut telah mengetahui kelompok-kelompok yang menguasai sebagian besar aset dan ekonomi nasional.

Meski demikian, Presiden menegaskan proses hukum harus berjalan tanpa tekanan opini publik. "Presiden bilang, orang-orang ini harus disadarkan. Kalau tidak mau sadar, hukum yang akan berjalan. Kalau masih bandel, akan saya umumkan kepada rakyat biar rakyat yang menghukum," kata Said Didu mengutip pernyataan Prabowo.

Peringatan Presiden dan Kekhawatiran Gejolak Nasional

Prabowo disebut tidak ingin nama-nama tersebut bocor sebelum proses hukum berjalan, karena khawatir menimbulkan gejolak besar. "Yang beliau takutkan bangsa ini pecah, bukan dirinya," tegas Said Didu. Ia menilai langkah Presiden bukan sekadar retorika dan menyatakan keyakinannya 1000 persen pada niat Prabowo.

Dominasi 5 Taipan dan Isu Oligarki di Indonesia

Said Didu juga menyinggung pertemuan Presiden dengan lima taipan yang disebut menguasai porsi ekonomi terbesar di Indonesia. "Data menunjukkan lima orang itu memang menguasai ekonomi paling besar. Soal apakah terlibat pelanggaran, saya tidak bisa menyebutkan," ujarnya.

Ia mengingatkan publik agar tidak terjebak pada dukung-mendukung figur, melainkan fokus pada agenda mengembalikan kedaulatan negara. "Kalau kita mendukung si A, si B, si C tanpa agenda, ujung-ujungnya dijual ke oligarki. Negeri ini butuh pemimpin kuat karena kerusakannya harus dihentikan," tegasnya.

Pembahasan Reformasi Polri dan Pergantian Kapolri

Halaman:

Komentar