Menurutnya, saat ini terjadi ancaman Microbiome Extinction atau kepunahan ekosistem mikroba secara masif akibat praktik pertanian intensif, penggunaan pupuk sintetis yang berlebihan, dan paparan herbisida. Upaya penyelamatan mikrobioma tanah melalui praktik mikrobiologi terapan merupakan prasyarat mutlak untuk menyelamatkan peradaban. "Kita harus beralih dari sekadar memberi makan tanaman dengan bahan kimia menjadi memberi makan kehidupan dalam tanah. Sebab, hanya dari tanah yang sehatlah akan lahir pangan yang kuat, dan dari pangan yang kuatlah akan lahir manusia yang sehat," ungkapnya.
Namun, saat kabar ini diunggah ke media sosial, netizen justru salah fokus dengan nama sang guru besar. Nama Jaka Widada yang berasal dari UGM tentu mengingatkan pada sosok Presiden Joko Widodo era 2014-2024 yang juga jebolan UGM, meskipun dari bidang kehutanan. Karena itu, netizen ramai membandingkan dan menyamakan nama Jaka Widada. "Ah apa hanya perasaanku saja," tulis netizen. "Apa iya si pria Solo itu," tulis netizen lainnya. "Yang itu O, yang ini A," tulis yang lain.
Jaka Widada menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah minimnya infrastruktur riset multi-omik yang memadai, keterbatasan kapasitas bioinformatika untuk mengolah maha-data (big data) mikrobioma, serta belum terintegrasinya hasil riset akademis ke dalam kebijakan ekologis dan industri. "Kita harus berinvestasi lebih berani pada teknologi sains hayati dan mencetak generasi peneliti yang fasih membaca sandi alam, agar perpustakaan genomik kita tidak sekadar menjadi harta karun yang tak tersentuh, melainkan mesin penggerak solusi yang nyata," tutupnya.
Artikel Terkait
Mantan Finalis Putri Indonesia Riau Ditangkap! Praktik Dokter Kecantikan Ilegal Selama 6 Tahun, Korban Cacat Permanen
Prabowo Ultimatum Pejabat Tak Patriotik: Pilih Bela Rakyat atau Mundur!
Mantan Puteri Indonesia Tersangka! Praktik Dokter Kecantikan Ilegal, 15 Korban Cacat Permanen
Guru Ngaji Bejat! Cabuli 4 Santriwati dengan Modus Pengusiran Jin, Polisi: Sudah Beraksi Sejak Oktober 2025