Trauma Korban Kiai Cabul Ashari: Masih Menangis & Jijik Jelang Nikah, Begini Nasib Pilunya

- Jumat, 08 Mei 2026 | 09:25 WIB
Trauma Korban Kiai Cabul Ashari: Masih Menangis & Jijik Jelang Nikah, Begini Nasib Pilunya

Nasib Pilu Korban Pelecehan Seksual Kiai Ashari: Trauma Mendalam Jelang Pernikahan

Korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Kiai Ashari, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndholo Kusumo di Pati, Jawa Tengah, masih mengalami trauma berat. Peristiwa memilukan yang berlangsung selama lima tahun itu meninggalkan luka psikologis yang dalam hingga saat ini.

Salah seorang korban, yang kini berusia 21 tahun, mengaku menjadi korban pelecehan sejak duduk di bangku kelas VIII SMP hingga lulus dari Madrasah Aliyah (MA). Kondisi psikologisnya yang rapuh diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati, pada Kamis (7/5/2026).

"Saya tanya, 'Kalau mengingat kejadian itu apa yang kamu rasakan?' Dia bilang nangis. Kalau mengingat masih nangis, masih jijik, masih takut," ujar Ema saat dikonfirmasi.

Selama masa sekolah, korban memilih memendam penderitaannya sendiri. Rasa takut yang luar biasa membuatnya tidak berani mengadu kepada siapa pun. Keberanian untuk bersuara baru muncul setelah ia menyelesaikan pendidikan dan meninggalkan lingkungan pesantren. "Baru setelah lulus dia berani cerita ke ayahnya," jelas Ema.

Saat ini, korban tengah menjalani pendampingan psikologis intensif melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Pati. Pendampingan ini sangat penting, terutama karena korban berencana untuk menikah dalam waktu dekat. "Calon suaminya juga perlu memahami kondisinya," tambah Ema.

Fenomena Gunung Es: Banyak Korban Lain Tarik Pengakuan

Ema menilai kasus ini merupakan fenomena gunung es di lingkungan pesantren. Timnya menemukan sejumlah santri lain yang sempat mengaku mengalami hal serupa, namun akhirnya menarik kembali pengakuan mereka. "Mereka masih berada di pesantren, jadi enggak berani. Akhirnya bilang itu fitnah. Korban takut karena pelaku dianggap tokoh agama, dianggap enggak mungkin salah," tutur Ema.

Halaman:

Komentar