Tapi satu yang pasti, penunjukan ini menunjukkan betapa longgarnya standar meritokrasi di negeri ini.
Seakan-akan jabatan publik adalah hadiah hiburan bagi mereka yang gagal di kontestasi politik, bukan amanah untuk menyelesaikan masalah.
Ini bukan hanya salah kamar, tapi salah dunia. Urusan pesawat, keselamatan, dan efisiensi diserahkan pada seorang penyanyi.
Seolah jabatan komisaris bisa dijalani dengan modal semangat, loyalitas, dan portofolio YouTube.
Mungkin para teknisi GMFI kini sedang sibuk mengatur ulang prosedur maintenance berdasarkan tangga nada.
Mungkin audit keselamatan akan dibuka dengan konser akustik. Atau jangan-jangan, rapat dewan komisaris kini dibuka dengan yel-yel kampanye?
Ini bukan lelucon. Ini tragedi dalam selubung ironi.
Kita tidak sedang bicara soal Giring sebagai pribadi. Tapi tentang sistem yang terus-menerus menganggap jabatan publik sebagai panggung popularitas, bukan arena profesionalisme.
Ketika kursi strategis diserahkan kepada mereka yang tidak relevan, maka sesungguhnya yang kita tunggu bukan lagi perbaikan—tapi kerusakan.
Apakah Giring akan memperbaiki GMFI? Atau justru mempercepat langkahnya menuju grounded total?
Apakah komisaris yang tidak paham industri akan membantu menyelamatkan perusahaan, atau justru menambah beban moral, finansial, dan struktural?
Jika perkara sudah diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah saatnya: saat pesawat tak bisa terbang, utang makin menumpuk, dan publik makin apatis. Itulah kiamat kecil yang lahir dari kelalaian besar.
Selamat datang di era Fantashziris Sa’ah, — fantasi kekuasaan yang perlahan membawa kita menuju akhir kewarasan. ***
Sumber: FusilatNews
Artikel Terkait
Krisis Kepercayaan Mengancam Prabowo-Gibran: Analisis Politik Ekonomi yang Bikin Penasaran
200 Ribu Buruh Siap Serbu Monas! 4.000 Bus Bergerak ke Jakarta untuk May Day 2026
Anggota TNI AL Gebrak Ambulans di Surabaya, Begini Kronologi Lengkapnya!
Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Rp27,5 M Tembus Rp700 Ribu per Pasang: Publik Minta Transparansi!