Rocky Gerung menjelaskan, kondisi ini terjadi karena NU yang memiliki basis nilai religiusitas kuat, akhirnya tergoda oleh praktik pragmatisme politik dan kepentingan bisnis.
"Organisasi yang didirikan dengan basis nilai yang kuat itu, akhirnya terseret harus terlibat karena panggilan suasana atau panggilan situasi yang bersejarah itu dalam politik, dan terakhir soal-soal bisnis," ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan NU ke depan akan ditentukan oleh tarik-ulur antara dua arus pemikiran. "Jadi, oke kita tunggu bagaimana evolusi dalam NU antara pikiran-pikiran akomodasionistik dan pikiran-pikiran pragmatik," pungkas Rocky Gerung.
Analisis ini muncul di tengah memanasnya konflik internal PBNU, yang menarik perhatian banyak kalangan akan masa depan dan konsistensi nilai organisasi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Buka Suara: Menteri Turun ke Bencana, Pencitraan atau Bukti Nyata?
Gus Yahya Tantang Rais Aam: Selesaikan di Muktamar 2026! Ini Kata-Katanya
Roy Suryo Bersumpah Demi Allah: Ini Bukti Lembar Pengesahan Skripsi Jokowi Hilang Saat Diperiksa di UGM
Presiden Prabowo Turun Tangan! Audit 4 RS Papua Usai Ibu Hamil Meninggal Ditolak