Lebih lanjut, Khozinudin menduga kuat bahwa pemeriksaan ini adalah bagian dari skenario sistematis yang ia sebut sebagai “SOP Solo”. Pola ini diduga dirancang untuk mengadu domba dan memecah belah barisan perjuangan.
“Rustam Efendi dan Kurnia Tri Royani diiming-imingi SP-3 dengan bayaran menghentikan perjuangan. Penulis sendiri juga mendapat informasi adanya ajakan bertemu untuk berdamai dan menghentikan langkah hukum,” ungkapnya.
Khozinudin menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk kompromi tersebut. Ia menyatakan tidak akan pernah berdamai dengan apa yang disebutnya sebagai kebohongan, kepalsuan, dan kezaliman.
Ia juga menyoroti bahwa tawaran perdamaian kerap disampaikan secara terbuka maupun terselubung di berbagai program televisi, termasuk ajakan untuk “sowan ke Solo” guna menyelesaikan perkara secara damai.
“Ijazah palsu tidak bisa direstorasi dengan perdamaian menjadi asli. Ijazah palsu harus diuji dan diadili di pengadilan, bukan dinegosiasikan,” tegas Khozinudin.
Menurut analisisnya, ada upaya sistematis untuk menghindari proses persidangan dengan membangun narasi perdamaian. Target akhirnya adalah meredam kasus ini agar tidak diuji secara terbuka di pengadilan.
Di akhir pernyataannya, Khozinudin menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang konsisten mengawal proses hukum, termasuk para tersangka, tim penasihat hukum, aktivis, dan media yang meliput.
“Pesan kami tegas: kami menolak berdamai dengan kepalsuan, kebohongan, dan kezaliman. Perjuangan ini akan terus kami lanjutkan,” pungkas Ahmad Khozinudin.
Artikel Terkait
Fahri Hamzah Bongkar Fakta Mengejutkan: Gagasan Global South Anies Ternyata Warisan Prabowo?
Jepang Bubarkan DPR, Warganet Indonesia Heboh: Kapan Giliran Kita?
Viral! Respons Gibran Soal BBM Rp25 Ribu di Papua Bikin Netizen Geram, Ini Faktanya
Nasihat Rizal Ramli ke Rustam Effendi: Eggi Sudjana Bisa Balik Badan – Terbukti?