Ketika Iqbal menggarisbawahi dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang dengan alat berat, Gus Ulil mengkritik pendekatan yang menuntut kesempurnaan dalam konservasi.
Ia menyebut pandangan semacam itu sebagai bentuk "wahabisme lingkungan."
"Wahabisme itu artinya begini, orang wahabi itu begitu kepinginnya menjaga kemurnian teks, sehingga teks tidak boleh disentuh sama sekali. Harus puritan," Gus Ulil menuturkan.
"Nah, saya mengatakan, teman-teman lingkungan ini terlalu ekstrem, seperti menolak sama sekali mining, karena industri ekstraksi selalu pada dirinya dangerous dan itu berbahaya," tambahnya.
Gus Ulil bilang, dalam memanfaatkan sumber daya alam, penting untuk melakukan penilaian terhadap manfaat (maslahat) dan kerusakan (mafsadat) yang mungkin ditimbulkan.
βIni anugerah Allah. Pohon anugerah. Tambang anugerah. Mari kita lihat kalkulasi maslahat mafsadatnya,β imbuhnya.
Sementara itu, Iqbal tetap mempertahankan posisinya bahwa ketergantungan terhadap industri ekstraktif seperti tambang sudah melewati batas daya dukung lingkungan.
Ia menyerukan agar pemerintah segera melakukan transisi.
ππ
Ulil Abshar sebelum PBNU mengelola tambang & jadi tameng pengusaha tambang. pic.twitter.com/MotXHrGnNg
Sedih saya sbg warga NU dgn pola pikir Ulil spt ini. Diminta tunjukkan satu sj konsesi yg berhasil mereboisasi dan mereklamasi? Si ulil jawabnya ngacok gak karuan. Tunjukkan jg ulil mana daerah yg disana ada tambang Nikel dan rakyat setempat kaya raya? Ada apa dengan engkau ulil? pic.twitter.com/XcPcvB0N4O
Sumber: Fajar
Artikel Terkait
Sidang Isbat 1 Syawal 2026 Digelar Besok: Apakah Idul Fitri Jatuh pada 20 Maret?
Mahfud MD Bongkar Potensi Korupsi di Balik Program Makan Gratis: Ini Kata-Kata Kerasnya
Restorative Justice untuk Rismon: Mungkinkah Perkara Ijazah Palsu vs Jokowi Berakhir Damai?
Mantan Ketua PN Depok Lawan KPK di Praperadilan: Benarkah Penyitaan Rp850 Juta & Rp2,5 Miliar Itu Sah?