"Potensi adanya tekanan tentu ada dan sangat mungkin," ujar Agung. Tekanan bisa meningkat drastis jika kerja sama drone tersebut dikaitkan langsung dengan sektor pertahanan dan konflik di Timur Tengah. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk merancang kerangka kerja sama yang jelas dan menegaskan fokus pada tujuan ekonomi dan perdamaian.
Respons dan Minat Indonesia
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa negaranya sangat maju dalam teknologi baru, termasuk nanoteknologi, bioteknologi, dan drone untuk aplikasi sipil seperti pertanian. Kedutaan Besar Iran siap menjembatani negosiasi antara perusahaan kedua negara.
Hingga kini, pemerintah Indonesia belum memberikan respons resmi terhadap tawaran tersebut. Sebelumnya, Indonesia telah menjalin kerja sama pengembangan drone dengan Turki, termasuk joint venture antara Republikorp dan Baykar untuk membangun pabrik drone serta pengadaan drone tempur Anka-S.
Hubungan Dagang Indonesia-Iran
Di luar sektor pertahanan, hubungan ekonomi kedua negara tercatat masih perlu ditingkatkan. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan total perdagangan Indonesia-Iran mencapai USD 206,9 juta dengan tren penurunan dalam lima tahun terakhir. Investasi Iran di Indonesia tercatat ada 73 proyek dengan nilai USD 0,9 juta.
Keputusan untuk menerima tawaran Iran ini akan menjadi ujian bagi diplomasi Indonesia, menimbang antara peluang transfer teknologi dan penguatan industri pertahanan dalam negeri dengan dinamika serta risiko hubungan geopolitik global yang kompleks.
Artikel Terkait
Viral! Quran.com Copot Mishary Alafasy, Ini Komentar Politik yang Jadi Penyebabnya
Kemenag Dihujat Netizen: Rencana Dana Umat Rp1.000 Triliun Bikin Resah, Apa Motif Sebenarnya?
APBN Hanya Bertahan Beberapa Minggu? Ini Strategi Pemerintah Hadapi Ancaman Kenaikan Harga BBM
Misteri Pertemuan Dubes Iran dengan Megawati, JK, dan Jokowi Akhirnya Terungkap!