Dilaporkan Reuters, pernyataan Wickremesinghe dilakukan setelah ratusan pengunjuk rasa menduduki hingga kemudian membakar rumah pribadinya pada Sabtu petang.
Beruntung, saat terjadi aksi massa, Wickremesinghe tidak berada di kediamannya. Ia telah dievakuasi ke tempat yang aman.
Wickremesinghe kemudian mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pemimpin partai politik.
Pembicaraan ini membahas soal langkah-langkah yang akan ditempuh pemerintah menyusul kerusuhan tersebut.
"Wickremesinghe telah mengatakan kepada para pemimpin partai bahwa dia bersedia mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri dan memberi jalan bagi pemerintahan semua partai untuk mengambil alih," ujar pernyataan Kantor Perdana Menteri, Sabtu (9/7).
Di bawah konstitusi Sri Lanka, ketika Wickremesinghe dan Gotabaya mengundurkan diri, ketua parlemen akan menjabat sebagai penjabat presiden selama maksimal 30 hari.
Dalam kurun waktu tersebut, parlemen akan memilih presiden baru dari salah satu anggotanya yang akan menjabat selama dua tahun sisa masa jabatan saat ini.
Sumber: rmol.id
Artikel Terkait
Rusia Tembak Jatuh F-16 Ukraina: Benarkah Rudal S-300 Bisa Lumpuhkan Jet Legendaris AS?
AS Perintahkan Warga Segera Tinggalkan Venezuela: Ada Apa dengan Kelompok Bersenjata yang Memburu Warga AS?
AS Desak Warga Negara-nya Segera Tinggalkan Venezuela: Ancaman Milisi Colectivos & Status Level 4!
Latihan Militer China, Rusia, Iran di Afrika Selatan: Sinyal Perang Baru atau Hanya Pamer Kekuatan?